Equityworld Futures – Hampir sebulan berlalu setelah ricuh referendum Brexit dimana suara mayoritas Inggris memutuskan akan keluar dari Uni Eropa. Sempat berkembang spekulasi kalau negeri yang beribukota di London itu akan batal melakukannya, tetapi dengan dilantiknya Perdana Menteri baru yang berkomitmen membereskan masalah ini, maka jelas bahwa tak ada kata “putar balik” bagi Inggris.

Masalahnya, Brexit disinyalir bakal berdampak luas, baik bagi Inggris sendiri, Uni Eropa, maupun negara-negara lainnya. Bank-bank sentral pun diperkirakan bakal memangkas suku bunga atau meluncurkan paket stimulus baru guna menanggulangi gejolak ekonomi yang mungkin akan ditimbulkan. Namun, setelah beberapa bank berapat, sejauh ini belum ada bank mayor yang nyata-nyata memangkas suku bunganya.

Bagaimana dengan bank sentral Eropa yang juga akrab disebut European Central Bank (ECB)? Apakah ECB akan tambah stimulus?

ECB

 

ECB Takkan Agresif

Sejumlah analis menilai, ECB juga akan kalem-kalem saja dalam rapatnya berikutnya pada hari Kamis tanggal 21 Juli 2016 mendatang, tak memangkas suku bunga, juga takkan tambah stimulus. Kenapa?

1. Menunggu Data Dampak Brexit Bagi Zona Euro

Menurut Marco Valli, Kepala Ekonom Zona Euro di UniCredit Italia, mengatakan bahwa Rapat ECB hari Kamis takkan membawa perubahan kebijakan. Pasalnya, dampak Brexit bagi wilayah Euro masih sangat belum jelas dan dibutuhkan waktu lebih dari beberapa minggu guna mengevaluasinya. Valli mengutip anggota dewan gubernur ECB Luis Maria Linde yang mengatakan bahwa ECB takkan menyediakan penilaian dampak Brexit terhadap wilayah Euro hingga paling cepat September.

Artinya, ECB takkan memiliki data yang cukup untuk dijadikan landasan bagi keputusan apapun pada rapat hari Kamis mendatang.

Hanya segelintir data dijadwalkan rilis, yaitu Survei ZEW Jerman, keyakinan konsumen Zona Euro, dan sentimen bisnis Perancis, yang mana masing-masing tak memiliki pengaruh signifikan. Data berdampak besar pertama yang bakal dirilis pasca Brexit, yaitu Indeks PMI, baru akan dirilis sehari setelah rapat ECB berakhir.

2. Bank of England Tak Bertindak

Mengingat BoE pada rapatnya pekan lalu secara mengejutkan ternyata menahan diri dari melakukan perubahan kebijakan, maka ECB pun diperkirakan akan condong untuk tidak mengambil kebijakan secara prematur. Mereka kemungkinan bakal melanjutkan saja apa-apa yang telah berlangsung.

Valli, sebagaimana dikutip oleh Poundsterling Live, mengamini pandangan tersebut. Menurutnya, ECB bahkan belum selesai meluncurkan semua paket yang diumumkannya pada bulan Maret (termasuk TLTRO dan program pembelian aset), sehingga hampir tidak mungkin mereka akan menambahkan lagi.

 

Jadi, Pasar Bakal Tenang Di Momen Rapat ECB?

Belum tentu. Sebagaimana yang telah kita lihat dari rapat-rapat bank sentral manapun, kejutan bisa muncul dari sumber yang tak terduga, bahkan biarpun tak ada pengumuman perubahan kebijakan. Berikut beberapa hal dimana pasar bisa terimbas:

1. Komentar Draghi

Mario Draghi tergolong gubernur bank yang jarang membuat komentar eksplosif, tetapi sebelumnya ia diketahui telah mengatakan pada para pemimpin Uni Eropa bahwa dampak Brexit bagi Zona Euro adalah penurunan pertumbuhan sebanyak sekitar 0.2%-0.5% dalam tempo tiga tahun.

Kathy Lien dari BK Asset Management menulis dalam catatannya pagi ini bahwa ia memperkirakan ECB takkan bertindak apapun dalam rapat besok. Alasannya, ECB takkan terburu-buru untuk menambah program karena baru saja melonggarkan kebijakan di bulan Maret. Namun, ia menilai Draghi akan menggunakan kesempatan untuk menyatakan bahwa ia terus memantau pasar dengan hati-hati dan siap  mengambil langkah tambahan jika diperlukan – yang mana ungkapans eperti ini bisa mengirim Euro ke level lebih rendah.

2. Perubahan Parameter Kebijakan

Menurut riset Nordea Bank yang bermarkas di Swedia, meski ECB tak merubah kebijakan, tetapi mereka bisa memodifikasi parameter kebijakan yang sudah ada sebagai akibat dari perkembangan saat ini.

Pasalnya, Brexit telah mengakibatkan kenaikan permintaan mendadak bagi obligasi Jerman yang dianggap sebagai safe haven, sehingga imbal hasil (yield) nya jatuh hingga dibawah nol. Padahal, peraturan QE ECB hanya mengizinkan pembelian obligasi dengan yield diatas suku bunga deposit yang berlaku (saat ini -0.4%). Akibatnya, saat ini sedikit sekali obligasi yang memenuhi kriteria QE, dan program itu bisa macet per Desember jika parameter tak diubah.

Dalam hal ini, ECB bisa saja merubah kriteria yield, atau mengganti porsi obligasi dari masing-masing negara yang harus dibeli, atau alternatif lainnya.

3. Tanda-Tanda Memburuknya Perbankan

Salah satu poin yang kuat dicemaskan pasar adalah memburuknya penyaluran pembiayaan perbankan di wilayah Zona Euro akibat Brexit. Karena alasan ini lah mengapa saham-saham sektor perbankan kawasan ini langsung ambrol pasca Brexit dan belum mampu bangkit hingga kini.

Di sisi lain, rendahnya penyaluran pembiayaan perbankan merupakan salah satu biang kerok lambatnya pemulihan ekonomi Eropa. Karenanya, jika perbankan memang tak stabil dan pembiayaan melambat, maka itu bisa membebani perekonomian. Sebagaimana diungkap diatas, data-data tentang ini pun kemungkinan belum lengkap tersedia pada hari Kamis, tetapi komentar terkait sektor ini bukan tak mungkin dilontarkan. – Equity world Futures