Jakarta (ANTARA News) – Fasilitas Bebas Visa Kunjungan Singkat atau BVKS bagi 92 negara diprediksi Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) akan menaikkan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 10 persen.

“Penambahan 10 persen akan luar biasa. Kalau di tingkat ASEAN, Malaysia sudah jenuh karena sebagian besar penduduk Malaysia sudah ke Indonesia,” ujar Ketua Asita Asnawi Bahar, di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, untuk wisatawan mancanegara dari ASEAN sudah mencapai titik jenuh sehingga sulit untuk bertambah lagi.

Asnawi memprediksi kenaikan jumlah kunjungan wisman akan berasal dari negara “emerging market”, di antaranya Tiongkok dan Korea Selatan serta negara-negara Eropa.

“Kenaikan besar akan terjadi dari Tiongkok dan Korea, kalau Jepang tetap sudah segitu. Dari Eropa akan bertambah juga,” tutur dia.

Kesempatan menarik wisatawan mancanegara dengan kebijakan bebas visa, ujar dia, sebaiknya diikuti dengan peningkatan penerbangan ke destinasi-destinasi wisata Indonesia serta pembangunan infrastruktur menuju destinasi.

Momentum menangkap pasar itu, ujar Asnawi, juga harus didukung regulasi yang menyeluruh serta dukungan lintas sektoral.

Selain itu, ia mengatakan, dengan dijalankannya kebijakan tersebut, diperlukan pengawasan kepada warga negara asing yang datang untuk alasan keamanan dan pemanfaatan kebijakan yang tepat.

Sedangkan Kementerian Pariwisata menyatakan fasilitas bebas visa akan meningkatkan jumlah kunjungan lima hingga 25 persen tergantung dari karakter negaranya.

Pemberian bebas visa kunjungan diharapkan menjadi faktor pendorong untuk menggenjot kinerja sektor pariwisata Indonesia agar target 20 juta wisman pada 2019 dapat tercapai.

Sementara hingga Agustus lalu, jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia sudah mencapai 6,3 juta orang, atau 103 persen dari target yang ditetapkan 6.150.000 orang.

Dengan realisasi itu, maka pemerintah optimistis bisa merealisasikan bahkan di atas target wisman tahun 2015 yang sebanyak 10 juta orang.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2015