Equityworld Futures – 72 tahun sejak perjanjian Bretton Woods, dominasi Dolar AS dalam sistem keuangan dan perdagangan internasional telah menjadi topik yang luas dibahas oleh para akademisi di bidang ekonomi maupun  fans teori-teori konspirasi.

Seiring dengan menguatnya indikasi abnormalitas ekonomi global, topik ini pun kembali muncul ke permukaan. Apakah dunia sungguh terjebak dalam dominasi Dolar, dan akan lebih baik jika ada lebih banyak mata uang yang dimanfaatkan sebagai alat pertukaran dan pembayaran utama?

Sebuah artikel tulisan Mike Dolan, salah satu koresponden dan editor senior Reuters, baru-baru ini mengupas lengkap pandangan para ekonom dan bank-bank Wall Street mengenai masalah tersebut. Biarpun tak banyak yang bisa diambil dari artikel itu untuk diterapkan dalam aktivitas trading kita, tetapi cukup menggoda untuk menjadikannya bahan pembicaraan di waktu senggang. Berikut rangkuman narasi Dolan dalam artikel berjudul “Stuck With Dangerous Dollar Dominance” tersebut.

Dominasi Dolar - ilustrasi

 

Equityworld Futures : Dunia Takkan Tahan FED Rate Hike

Dunia, tulis Dolan, tengah mendapatkan contoh pelajaran mengenai masalah-masalah akibat memiliki satu mata uang dominan global dan bahkan pemilik mata uang tersebut yang seharusnya mendapatkan manfaat, yaitu Amerika Serikat, pun merasakan sisi negatifnya. Volatilitas berbahaya yang terjadi di pasar finansial Dunia dalam 12 bulan terakhir, menurutnya berakar pada ketakutan akan apa yang terjadi bila sebuah dunia yang telah menimbun utang dalam jumlah besar menghadapi tanda-tanda suku bunga akan meningkat.

Meskipun sering dikabarkan bahwa rumah tangga dan bank-bank di Amerika Serikat membayar kembali lebih banyak utang dibanding saat krisis kredit delapan tahun yang lalu, tetapi semua pengurangan diimbangi oleh utang pribadi, korporasi, dan pemerintah yang lebih tinggi dari bagian-bagian lain dunia, termasuk dari Eropa, China, dan negara-negara berkembang. Bahkan Dolan mengklaim jumlah total utang dunia saat ini jauh lebih tinggi ketimbang sebelum krisis 2007-2008.

Ia mengutip sebuah laporan dari Morgan Stanley yang mengungkap bagaimana tumpukan utang yang menggunung akan berubah menjadi beban bagi pertumbuhan dunia dalam waktu lima tahun mendatang. Peran Dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia yang menjadi denominasi sebagian besar utang tersebut pun muncul sebagai komplikasi baru yang meningkatkan risiko instabilitas.

Kenaikan suku bunga pertama AS dalam satu dekade pada Desember lalu yang hanya 0.25% itu saja sudah cukup untuk memicu goncangan di pasar dunia dan membuat pasar modal global mengawali tahun dengan kondisi terburuk sejak Perang Dunia 2. Pemulihan selanjutnya pun hanya bisa terjadi setelah Federal Reserve buru-buru menyatakan bahwa pihaknya menunda kenaikan lebih lanjut.

Pertumbuhan ekonomi AS yang mendekati full employment kemungkinan bisa bertahan dari kenaikan suku bunga maupun penguatan Dolar, tetapi bagian dunia yang lain jelas sekali tidak bisa. Pada gilirannya, apabila Dunia mengalami shock akibat tingginya biaya untuk membayar kembali utang-utangnya dalam Dolar, maka itu akan menjadi bumerang bagi Amerika.

 

Bank Sentral AS Pun Tak Suka

Dengan melihat kondisi ini, tak heran kalau meskipun banyak pihak mengklaim bahwa AS semestinya senang dengan privilege yang dinikmatinya berkat status Dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia, tetapi para pejabat bank sentral AS malah tidak suka.

Dalam sebuah acara di Zurich, Swiss, pada hari Selasa lalu, Dudley dari FED New York mengatakan bahwa orang Amerika seharusnya tidak merasa terganggu kalau mata uang lain menggantikan Dolar sebagai mata uang cadangan.

Meskipun tidak secara nyata ingin “membuang” hegemoni yang digenggam Dolar, tetapi jelas bahwa ada ambivalensi di kalangan para pejabat bank sentral tentang status sebagai mata uang cadangan dunia, karenaluasnya penggunaan mata uang mereka di tingkat internasional malah bisa membahayakan kebijakan domestik.

Ketegangan itulah yang berisiko menyebarkan instabilitas. Jika FED tidak bisa merubah kebijakan karena kuatir bakal menimbulkan shock yang berdampak bumerang, maka akan muncul kekhawatiran kalau kebijakan suku bunga rendah FED malah hanya akan membuat dunia menimbun lebih banyak utang dan ketidakseimbangan.

 

Tak Ada Jalan Keluar

Kekuatiran serupa disuarakan oleh pimpinan Departemen Ekonomi dan Moneter Bank of International Settlement (BIS), Claudio Borio. Pejabat tinggi di “bank-nya bank-bank sentral Dunia” itu menuturkan bahwa kebijakan moneter longgar the FED bisa menyebar ke negara-negara lain yang berusaha untuk meningkatkan daya saingnya di tengah pelemahan Dolar.

Di mata Morgan Stanley, situasi itu hanya akan mengakibatkan lebih banyak lagi utang, dan tak ada jalan keluar “tanpa rasa sakit” dari masalah yang akan mulai berdampak dalam beberapa tahun mendatang ini. Sementara itu, bank kawakan asal AS tersebut memperkirakan bahwa Dolar kemungkinan akan menguat lagi, karena ekonomi AS bisa jadi merupakan satu-satunya yang kuat bersaing dalam kondisi nilai tukar mata uangnya menguat.

Jadi, apakah Dunia akan lebih baik jika Dolar tak lagi menjadi mata uang cadangan utama?

Menurut Borio, sebagaimana dikutip oleh Dolan, itu bukan alternatif yang bisa menjadi solusi instabilitas saat ini. Berdasarkan pernyataannya di Zurich, Borio memandang sistem yang lebih “pluralistik” (dimana beberapa mata uang berbagi status sebagai mata uang cadangan) tidak akan bisa memecahkan masalah. Yang diperlukan, menurutnya, bukan hanya “menata rumah satu orang” melainkan “menata desa global kita”. – Equity world Futures