Equityworld Futures – Rapat FOMC akan kembali digelar dua hari ke depan, dimana ada perubahan ekspektasi 180 derajat tentang kenaikan suku bunga The Fed, dari sebelum data ketenagakerjaaan AS diumumkan, utamanya karena data Non Farm Payroll (NFP) terakhir sangat jauh di bawah ekspektasi.

yellen_the_fed

Data Non Farm Payroll (NFP) bulan Mei hanya mengalami pertambahan sebesar 38,000. Itu jauh lebih sedikit ketimbang ekspektasi kenaikan sebesar 158,000, sekaligus merupakan angka NFP terburuk sejak September 2010 serta menumbuhkan keraguan tentang kekuatan ekonomi AS. Apalagi, angka NFP periode sebelumnya pun direvisi turun ke 123,000 dan rerata tiga-bulanan ambruk dari dekat 200,000-an ke 116,000 saja.

nfp_as
Pasar yang semula hawkish dan yakin kenaikan suku bunga AS yang dikenal dengan istilah “Fed rate hike” ini akan dieksekusi bulan Juni 2016, sontak berbalik. Sejumlah komentar pejabat penting The Fed pasca laporan data ketenagakerjaan yang masih menggaungkan nada hawkish pun tampaknya tak berhasil membuat pasar untuk tetap mempertahankan sentimen hawkish-nya.

Ketua The Fed, Janet Yellen, pun seolah mengamini sentimen pasar tersebut dengan mengeliminasi kata keterangan waktunya dalam pidato terakhirnya sebelum FOMC besok. Padahal sebelumnya, pimpinan bank sentral AS itu dengan yakin mengisyaratkan kenaikan suku bunga minggu ini. Dengan demikian, pasar mengubah ekspektasi mereka bahwa suku bunga AS tidak akan mungkin dilakukan bulan ini.

 

Brexit Mengalihkan Perhatian Pasar Dari FED

Faktor yang mencegat langkah kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan ini kian bertambah dengan kekalutan global yang disebabkan oleh makin besarnya kemungkinan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) dilihat dari beberapa hasil pemungutan suara sementara tentang Brexit.

Menurut analis Goldman Sachs Group Inc. yang dipimpin oleh, Krag Gregory, pasar bahkan memasang risiko yang lebih besar terhadap kemungkinan lepasnya Inggris dari UE ketimbang kebijakan moneter The Fed besok.Walaupun, jika The Fed meniupkan nada dovish diiringi data-data fundamental AS yang lemah, Goldman Sachs memprediksi pasar tidak akan terlalu ambil pusing dan tetap memusatkan perhatian mereka ke referendum di Inggris.

Apa Yang Perlu Diperhatikan Dari Pengumuman Kebijakan FOMC Juni?

Pasar menantikan pengumuman FOMC mendatang untuk mendapatkan sinyal waktu pelaksanaan untuk melaksanakan Fed Hike, apakah Juli ataukah September. Hal inilah yang akan menjadi informasi yang paling krusial dari FOMC besok. Sejumlah besar pengamat pasar memberikan pandangan berbeda akan kenaikan tingkat suku bunga The Fed Juli dan September. Empat perlima dari 92 ekonom yang disurvei oleh Reuters mengantisipasi kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan Juli maupun September.

 

Equityworld Futures : Alasan Untuk Meyakini Kenaikan Pada Bulan Juli

Untuk para ekonom yang memprediksi kenaikan pada bulan Juli, mereka beralasan Fed ingin menjaring lebih banyak pilihan. Richard Moody, Kepala Ekonom di Regions Financial mengatakan, The Fed mungkin akan menunggu setidaknya dua data lagi dari sektor ketenagakerjaan yang menunjukkan hasil solid demi meyakinkan mereka untuk menaikkan suku bunga.

Selain revisi naik data ketenagakerjaan, menurut Moody, salah satu peluang yang membuka kenaikan pada bulan Juli adalah jika Inggris memenangkan suara untuk tetap menjadi anggota Uni Eropa. Meski lebih melihat kesempatan pada bulan Juli, Moody tak menutup kemungkinan kenaikan akan dilakukan pada bulan-bulan berikutnya tahun ini.

 

RBS Berat Kemungkinan Pada Bulan September

Pandangan lain datang dari Royal Bank of Scotland (RBS) yang memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed bulan Juli pun akan sulit dilakukan. Waktu yang paling memungkinkan menurut RBS adalah bulan September.

“…Mengingat bahwa Ketua The Fed, Janet Yellen, terus mendukung kebijakan dengan pendekatan manajemen risiko (lebih baik mengambil tindakan kenaikan suku bunga yang terlalu lambat daripada terlalu cepat) kami tak yakin the Fed akan bertindak pada bulan Juli, walaupun jika nantinya angka ketenagakerjaan menunjukkan penguatan. Jadi, kami lebih condong pada kemungkinan kenaikan suku bunga bulan September.” tulis RBS.

 

Ferres: Tak Mungkin Naik Tahun Ini

Bertolak belakang dengan pandangan kontroversial yang datang Nicholas Ferres, Direktur Investasi di Eastspring Investments yang diwawancarai oleh CNBC, justru tak setuju dengan pandangan ekonom Reuters tersebut. Ferres justru tak yakin sama sekali “FED rate hike” dapat dilaksanakan tahun ini. Malah, pemotongan suku bunga masih lebih mungkin daripada menaikkannya lagi.

“Saya menghargai pada pandangan yang menunjukkan bahwa Anda tidak ingin fokus hanya pada satu poin data saja, tetapi revisi menurun dalam data tenaga kerja, berkombinasi dengan pertumbuhan profit yang negatif dalam dua kuartal-lah yang menjadi perhatian saya,” jelas Ferres merujuk pada penurunan profit perusahaan sebanyak 8.1 dan 3.3 persen pada kuartal tiga dan empat di tahun 2015.

 

Nasib Dolar AS?

Terlepas dari Brexit dan kemungkinan-kemungkinan waktu “FED rate hike” lainnya, dengan besarnya ekspektasi pasar akan penundaan kenaikan suku bunga bulan Juni ini, maka kemungkinan Dolar AS akan tak banyak perubahan apabila kebijakan moneter Federal Reserve sesuai ekspektasi bahkan sekalipun FED mensinyalkan nada dovish seperti yang dikatakan oleh Goldman Sachs. Sebaliknya, jika FED ternyata mematahkan ekspektasi pasar, bisa jadi Dolar AS akan hancur lebur dan Yen akan semakin berkilau.

Oleh sebab itulah, para analis Seputar Forex seperti Buge Satrio dan Martin Singgih memperingatkan agar trader jangan lengah. Meskipun kecemasan referendum Brexit mendominasi, tidak ada salahnya untuk menyimak data ekonomi penting lain dari AS, antara lain CPI, Jobs Data, laporan COT (Commitment of Traders), dan Retail Sales yang akan dirilis lebih dulu sebelum hasil FOMC.

Sebagai tambahan, Bank Sentral Inggris, Bank Sentral Jepang dan Bank Sentral Swiss juga akan mengadakan rapat pada pekan ini. Menurut Barclays, bank-bank sentral tersebut juga akan mempertahankan kebijakan moneter mereka sehubungan dengan ketidakpastian Brexit.