Dolar Australia terpantau menguat seiring dengan cerahnya data menufaktur Tiongkok. Dilaporkan oleh Markit, Kamis (22/05), indeks PMI HSCBC Tiongkok mengalami peningkatan ke angka 49.7 pada bulan Mei ini. Capaian tersebut melebihi ekspektasi yang mengharapkan kenaikan ke 48.3 dan melebihi perolehan pada bulan lalu di angka 48.1. AUD/USD diperdagangkan pada 0.9255 atau naik 0.04% setelah rilisnya data tersebut.

Pada pekan ini, Dolar Australia terlihat telah cukup lelah dengan reli-relinya dan ada kemungkinan untuk kembali menurun meskipun volatilitas pada hari ini (22/05) cukup tinggi. Pada dasarnya ada beberapa faktor yang dapat melemahkan pergerakan Aussie, salah satunya adalah perlambatan ekonomi di Tiongkok, mengingat bahwa Tiongkok adalah partner dagang terbesar bagi Australia. Selain itu, faktor-faktor pelemah Aussie lainnya antara lain:

Pemotongan Anggaran Pemerintah

Aussie berada di bawah tekanan jual yang cukup berat pada awal pekan lalu. Hal itu diakibatkan oleh pengumuman dari pemerintah setempat yang memutuskan untuk memotong anggaran dan melakukan perubahan struktural. PM Australia, Tony Abbott dan Menteri Keuangan, Joe Hockey, ingin mengubah pertumbuhan defisit anggaran menjadi surplus dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Tujuannya adalah untuk menghindari masalah utang.

Akibatnya, berbagai sektor krusial pun harus terkena imbas dari pemotongan anggaran tersebut, antara lain kesehatan, kesejahteraan, pendidikan tinggi, dan pensiun. Tak pelak protes pun berdatangan. Pihak yang kontra dengan kebijakan Abbott tersebut menyatakan bahwa pemotongan anggaran hanya akan mengurangi pemasukan bagi pembayar pajak. Selain itu, tindakan tersebut juga tidak akan mendongkrak Dolar Australia. S&P memperingatkan bahwa peringkat AAA yang telah diraih Australia terancam bahaya jika pemotongan anggaran tersebut ternyata tidak sesuai.

Notulensi RBA

Risalah rapat Bank Sentral Australia ini memaparkan hasil yang cenderung bersifat waspada. Para pembuat kebijakan mencatat bahwa tingkat inflasi Australia masih di bawah ekspektasi. Akibatnya, akan cukup sulit untuk mendorong kenaikan harga karena pertumbuhan upah yang kecil. Selain masalah inflasi, RBA juga menyatakan bahwa para pembuat kebijakan tidak memperkirakan akan adanya pertumbuhan dalam sektor ekspor.