Hanoi (ANTARA News) – Tahun 2002 pada babak penyisihan Piala AFF, timnas Filipina pernah dibantai 1-13 oleh Indonesia yang merupakan skor terbesar dalam sejarah kejuaraan sepak bola paling prestisius di kawasan Asia Tenggara itu.

Ketika itu Filipina dapat disebut hanya merupakan pelengkap dalam Piala AFF, karena mereka memang hanya sebagai “underdog”, mengingat sepak bola di negara tersebut memang jauh ketinggalan dan para pembinanya belum terlalu serius.

Tapi kini situasi sudah berubah. Sejumlah perubahan radikal terjadi dalam persepakbolaan di negeri itu.

Dalam lima tahun terakhir Filipina sudah menjelma menjadi salah satu kekuatan terbaru, setidaknya bagi kawasan ASEAN.

Tanda-tanda kebangkitan sepak bola Filipina semakin jelas saat mereka berpartisipasi pada Piala AFF 2010.

Tim berjuluk “Azkals” itu secara tak terduga mampu maju ke semifinal. Prestasi itu berlanjut pada Piala AFF 2012, meskipun mereka belum mampu mencapai final.

Sepak bola memang bukan olahraga populer di Filipina. Masyarakat di negara tersebut lebih suka bola basket

Meskipun Federasi Sepak Bola Filipina sudah ada sejak 1913, namun prestasi tim nasioal negara itu tetap tidak pernah beranjak dari papan bawah.

Hingga tahun 2005, dalam peringkat badan sepak bola dunia (FIFA), Filipina masih berada di urutan ke-191 dari 205 negara anggota.

Tapi hal itu bukan halangan bagi pembina sepak bola di negara tersebut untuk membentuk tim yang tangguh.

Sementara kompetisi liga domestik Filipina atau Phillipines United League tetap berjalan sebagai sumber pencarian pemain berbakat, berbagai upaya dilakukan untuk membentuk timnas yang tanggguh.

Selain itu Filipina juga memiliki talenta-talenta yang dapat diandalkan untuk sebuah tim nasional, yakni pemain yang memiliki darah asing dari ayah atau ibunya, khususnya pemain keturunan Eropa yang sempat menjalani pembinaan di klub-klub Eropa.

Di antaranya adalah Phillip Younghusband yang keturunan Inggris dan pernah bermain bagi tim junior Chelsea, kiper Patrick Deyto, Jerry Ruben Lucena yang masih main di Liga Denmark, serta Mark Andrew Hartman yang bermain di salah satu klub Amerika Serikat.

Kehadiran mereka terbukti mampu mendongkrak Filipina dalam persepakbolaan dunia, khususnya Asia Tenggara.

Melalui partisipasi pada sejumlah turnamen dan pertandingan persahabatan internasional serta kemenangan-kemenangan yang diraih, timnas Filipina kini sudah berada di urutan 127 dunia, atau di atas semua negara Asia Tenggara lainnya.

Kekuatan baru

Oleh sebab itulah saat tampil di kejuaraan-kejuaraan level Asia Tenggara, media-media massa sering menyebut tim Filipina sebagai “kuda hitam” atau pun “the rising star” di kancah sepak bola ASEAN.

Demikian pula pada Piala AFF 2014 yang berlangsung di Vietnam dan Singapura saat ini.

Hal tersebut juga diakui oleh tim-tim peserta Piala AFF, termasuk Indonesia.

“Tim Filipina sekarang sudah bagus, pemain penyerang mereka sudah bagus,” kata pelatih tim Indonesia Aflred Riedl.

Riedl juga menyebut Phillip Younghusband sebagai pemain yang cerdas dan bisa memotivasi rekan-rekannya di tim Filipina.

Namun pelatih tim Filipina Thomas Dooley mengatakan bahwa “trend” menanjak timnya dan peringkat FIFA tidak selalu merefleksikan kekuatan suatu tim dalam sebuah turnamen yang berat seperti Piala AFF.

“Saya juga ingatkan pemain saya supaya tidak terbuai oleh peringkat FIFA, karena mereka bisa saja melakukan kesalahan dalam pertandingan nanti,” kata Doleey juga mantan pemain timnas Amerika Serikat itu.

Meskipun demikian pada pertandingan pertama grup A di Stadion My Dinh, Hanoi, Philip Younghusband dan kawan-kawan sudah membuktikan bahwa mereka memang layak menjadi tim papan atas Asia Tenggara, dengan menaklukkan Laos 4-1.

Tim Filipina tampil tenang serta mampu meredam kecepatan tim Laos dan memanfaatkan celah kelemahan lini belakang lawan.

Kini “Azkals” mengincar korban berikutnya di Piala AFF 2014 yakni Indonesia yang selama ini belum pernah mereka kalahkan.

“Tentunya kami ingin mengalahkan Indonesia untuk memastikan tempat di semifinal,” kata Dooley.

Ketika ditanya mengenai banyaknya pemain keturunan Eropa dalam timnas Filipina, Dooley mengatakan bahwa begitu mereka sudah bermain untuk timnas, sudah tidak relevan lagi membicarakan dari mereka berasal.

“Mereka bangga membela Filipina sebagai negaranya, dari mana pun asal ayah ibunya, tapi kini mereka adalah warga negara Filipina,” kata Dooley.

Peningkatan besar prestasi sepak bola Filipina, tentunya memberi nilai tambah bagi persepakbolaan di Asia Tenggara untuk bisa meningkatkan mutu dan persaingan di tingkat dunia.

Editor: Tasrief Tarmizi