Equityworld Futures – Harga minyak mentah kembali terpuruk pada perdagangan berjangka tadi malam setelah International Energy Agency menyatakan bahwa pasar masih akan dilanda surplus produksi hingga tahun depan. Namun demikian, pada sesi Asia hari Rabu pagi ini (14/9) pelaku pasar menantikan rilis data inventori minyak AS oleh US Energy Information Administration.

ilustrasi

Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman bulan Oktober di New York Mercantile Exchange diperdagangkan di kisaran $45.11 setelah anjlok sekitar 3% dalam semalam, sementara harga minyak Brent melorot sekitar 2% dan kini diperdagangkan di kisaran $47.27 per barel.

Surplus Terus Sampai 2017
Lembaga urusan energi antarpemerintah bentukan OECD, International Energy Agency (IEA) yang berpusat di Paris, pada hari Selasa mempublikasikan forecast-nya bahwa suplai minyak global tahun depan bakal jauh melampaui permintaan. Ini berkebalikan dengan penilaiannya bulan lalu yang menyatakan takkan ada surplus sepanjang sisa tahun ini.

Senada dengan itu, laporan bulanan OPEC hari Senin menunjukkan bahwa negara-negara anggota kartel minyak tersebut memperkirakan negara-negara produsen minyak Non-OPEC terus menggenjot produksi hingga mengindikasikan surplus bakal melimpah tahun depan.

“Forecast kami dalam laporan bulan ini mensinyalkan bahwa dinamika supply-demand ini boleh jadi tidak berubah signifikan dalam bulan-bulan mendatang. Hasilnya, suplai akan terus melebihi demand hingga sepanjang paruh pertama tahun depan,” ungkap IEA.

Pasalnya, aktivitas pabrik-pabrik pengilangan berjalan dalam laju paling lambat dalam lebih dari satu dekade, padahal pertumbuhan global berlangsung lebih lambat dibanding perkiraan awal IEA. Meski forecast demand untuk tahun 2017 tetap berada pada 1.2 juta barel per hari, tetapi forecast pertumbuhan konsumsi tahun 2016 diturunkan dari 1.4 juta bph ke 1.3 juta bph. Menurut EIA, “Kunci perubahan demand dalam laporan ini adalah erosi 300,000 bph dari estimasi permintaan global kuartal ketiga tahun 2016, dan berdampak pada dihapusnya 100,000 bph dari forecast (permintaan) netto tahun 2016.”

Mempersulit Perundingan Pembekuan Produksi
Walaupun kolapsnya harga minyak telah memukul sejumlah produsen yang harus menanggung biaya produksi tinggi seperti Venezuela, tetapi penurunan output tersebut sudah lebih dari sekedar diimbangi oleh peningkatan output OPEC. Arab Saudi dan Iran masing-masing tercatat telah menaikkan produksi sebanyak lebih dari 1 juta bph sejak akhir 2014 saat harga minyak anjlok. Ini terjadi meskipun forecast demand minyak versi OPEC berkurang 530,000 bph ke angka 32.48 juta bph saja di tahun 2017.

Pimpinan Strategi Komoditas di Commerzbank, salah satu bank terbesar Jerman, Eugen Weinberg mengatakan pada Reuters, “Nampaknya sutuasi sudah sangat memburuk di mata OPEC dan IEA… Bahwa kita berada di kuartal tiga 2016 dan kita takkan melihat ‘stabilisasi’ (harga minyak) dalam enam bulan mendatang adalah sungguh-sungguh sebuah perubahan besar.”

Di saat yang sama, tingginya output minyak OPEC dan Non-OPEC bisa mempersulit negara-negara produsen untuk mencapai kesepakatan dalam menopang pasar, meskipun sebuah pertemuan terkait dijadwalkan digelar di Aljazair pada 26-28 September mendatang.

Inventori Minyak AS Diekspektasikan Berkurang
Lembaga American Petroleum Institut tadi malam melaporkan bahwa persediaan minyak mentah naik 1.4 juta barel. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang laporannya minggu lalu yang mencatat penurunan 12.1 juta barel, tetapi lebih rendah dibanding perkiraan naik 3.8 juta barel.

Departemen Energi AS, tepatnya bagian US Energy Information Administration, akan meluncurkan laporan resmi mengenai topik yang sama malam ini. Setelah pekan lalu terjadi penurunan drastis sebesar 14.51 juta barel karena badai mengakibatkan gagal bongkar muat, minggu ini ekspektasi pasar cenderung mengambang. Patut untuk dicatat bahwa harga minyak minggu lalu sempat melonjak setelah data inventori dirilis minus, sehingga jika kali ini inventori bertambah maka bisa menjadi beban tambahan bagi harga. – Equity world Futures