Equityworld Futures – Untuk pertama kalinya sejak bulan April, harga minyak mentah AS jatuh ke bawah level $40 per barel pada sesi perdagangan tadi malam. Baik WTI maupun Brent merosot sekitar 4 persen akibat meningkatnya kekhawatiran akan limpahan surplus. Namun, pagi ini (2/8) harga mulai merangkak naik kembali di atas $40 di tengah antisipasi menjelang rilis data inventori AS.

SPBU Di AS

Menurut trader yang diwawancarai oleh Reuters, ambruknya harga terutama dipicu oleh stop-loss teknikal, dikombinasikan dengan likuidasi posisi oleh pelaku pasar yang takut kalau limpahan surplus akan kembali “menenggelamkan” harga minyak. Pasalnya, persediaan minyak mentah AS hingga puncak musim panas kini masih terus meningkat, padahal biasanya masa liburan seperti ini diiringi dengan pengurangan persediaan karena peningkatan konsumsi BBM oleh masyarakat.

Pada titik terendahnya tadi malam WTI sempat menyentuh $439.86, meski kemudian ditutup pada $40.06. Brent cenderung lebih kuat dengan hanya melorot sampai $41.87, dan setelahnya ditutup pada $42.14. Namun, saat berita ditulis, harga minyak WTI telah berada di sekitar $40.17 per barel dan Brent diperdagangkan diantara $42.38 per barel.

Pasar masih berfokus pada proyeksi peningkatan produksi negara-negara OPEC ke level tertingginya sepanjang masa. Diketahui bahwa Arab Saudi, Irak, dan Nigeria kini tengah menggenjot produksinya dengan kekuatan penuh, demikian pula Iran. Berbicara di stasiun televisi pemerintah, Menteri Perminyakan Iran mengakui bahwa pasar telah mengalami surplus berlebih, tetapi tetap meyakini kalau keseimbangan supply dan demand akan pulih.

Meskipun demikian, tak semua outlook saat ini bearish. Survei Reuters yang diselenggarakan hari Senin mengekspektasikan persediaan minyak mentah AS untuk periode minggu lalu telah mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam 10 pekan terakhir. Jumlah sumur pengeboran minyak AS hari Jumat lalu dilaporkan kembali mengalami peningkatan, tetapi bila angka persediaan menurun dalam jumlah cukup besar, maka itu bisa mengindikasikan masih adanya kekuatan demand. Ke depan, pasar akan mengamati rilis data inventori minyak AS dari American Petroleum Institute (API) pada Rabu malam dan US Energy Information Adminstration (EIA) pada Kamis malam. – Equity world Futures