Kapsul waktu cita-cita anak Indonesia 2085 diluncurkan

Makassar (ANTARA News) – Kapsul Waktu 2085 Indonesia yang berisikan cita-cita anak Indonesia sebagai wadah penampungan harapan generasi baru di masa mendatang, diluncurkan di Makassar, Rabu.

Peluncuran kapsul waktu pertama kali di Makassar itu di laksanakan di Mal GTC jalan Metro Tanjung Bunga Makassar, Sulawesi Selatan. Hadir pada kesempatan itu pejabat Pemprov dan Pemkot, PT Pertamina, PT PLN, PGN dan sejumlah tamu lainnya.

Kapsul waktu 2085 merupakan wadah yang disiapkan untuk menampung segala harapan dan cita-cita anak-anak Indonesia dalam mengisi kemerdekaan 70 tahun.

Seluruh anak-anak Indonesia dari Sabang hingga Merauke diminta untuk menuliskan cita-cita dan asa mereka dan mengambarkan masa depan bangsa ini pada 70 tahun mendatang.

“Saya sangat berbahagia Makassar dipercaya kembali sebagai bagian kota peluncuran kapsul waktu, mengingat kami baru saja mendapatkan piala adipura ke tiga kalinya,” ucap Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto.

Menurut dia pihaknya merasa bangga atas penunjukan Makassar sebagai tuan rumah persinggahan pertama kapsul waktu 2085, meskipun nantinya kapsul waktu tersebut akan ditanam di Merauke.

Danny Pomanto disapa akrab ini menyatakan Kota Makassar saat ini telah menjelma menjadi sebuah kota yang penuh harapan dan mimpi generasi muda. Sehingga kata dia, apabila kapsul waktu itu ditanam di Makassar akan menjadi bagian dari mimpi dan harapan anak-anak Indonesia.

Persingahan terakahir kapsul waktu di Merauke karena dianggap daerah paling timur Indonesia. Kapsul waktu ini akan ditanam kemudian akan kembali dibuka pada 2085 mendatang sebagai bagian dari peringatan 140 tahun kemerdekaan Indonesia.

Sebelumnya ekspedisi kapsul waktu akan menjelajah 43 kota di 34 provinsi Indonesia selama tiga bulan kedepan. Bahkan mobil kapsul waktu ini sebelumnya dilepas Menteri Sekretaris Negara, Pratikno.

Ekspedisi kapsul waktu tersebut merupakan kerja bersama, gotong royong berskala nasional dengan Panitia Nasional Gerakan Ayo Kerja 70 tahun Indonesia Merdeka.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2015