Equityworld Futures – Takahide Kiuchi, salah seorang anggota Dewan Bank Sentral Jepang (BoJ) yang terkenal sering kontra.

dengan para anggota BoJ lainnya, Kamis (23/Juni) ini mengatakan bahwa bank sentral tersebut seharusnya meninjau kembali kebijakan suku bunga negatifnya.

Selain itu, BoJ juga harus memberi lebih banyak waktu untuk mencapai target inflasi 2 persen.

dan memperingatkan bahwa kerugian dari kebijakan stimulus moneter masif justru lebih besar daripada manfaatnya.

takahide_kiuchi_boj

Dampak Negatif QQE Membesar

Lamanya periode tingkat suku bunga ultra rendah, seperti pembelian aset dalam jumlah besar.

dan penerapan suku bunga negatif, menurut Kiuchi, sudah membuat pasar saaham menjadi tidak stabil.

serta membahayakan kredibilitas bank sentral.

“Dampak lain yang positif dari pelonggaran kualitatif dan kuantitatif (QQE) telah memudar.

” kata Kiuchi di depan para pimpinan bisnis di wilayah Kanazawa.

“Sebaliknya, efek samping dari QQE malah tampak kian meningkat,” kata Kiuchi.

Pandangan Kiuchi memang tidak mendapat dukungan dari mayoritas Dewan BoJ yang terdiri dari 9 orang.

akan tetapi keraguannya atas kebijakan stimulus radikal yang diterapkan oleh Gubernur Haruhiko Kuroda.

perlahan-lahan mendapat simpati dari para pembuat undang-undang dan para pembuat kebijakan, termasuk para pejabat perbankan.

Kebijakan BoJ bertujuan untuk mengakhiri deflasi yang sudah membayangi Jepang dalam dua dekade terakhir dan stagnannya pertumbuhan.

Namun, dalam hampir tiga tahun ini kebijakan pelonggaran agresif itu dilaksanakan, inflasi Jepang tak juga terakselerasi.

malah jatuh dalam dua bulan berturut-turut sejak bulan April. Akibatnya.

perusahaan-perusahaan pun enggan menaikan upah dan masyarakat enggan berbelanja.

BoJ Seharusnya Lebih Fleksibel

“BOJ seharusnya tidak bertujuan mencapai target inflasi 2 persen hanya dengan mengandalkan kebijakan moneter saja dalam jangka pendek.

” kata Kiuchi. “Daripada seperti ini, seharusnya BoJ mengatur ulang kerangka waktu pencapaian inflasinya.

menjadi jangka menengah dan jangka panjang, serta mengatur agar kebijakan moneternya lebih fleksibel.”

USD/JPY diperdagangkan sedikit naik 0.21 persen ke angka 104.63.

Yen tak terlalu banyak mendapat permintaan karena polling opini Brexit.

menunjukkan suara “Bremain” masih lebih unggul daripada suara Brexit. – Equity world Futures