Equityworld Futures – Korea Selatan kini dikenal dengan kota-kota modern dan hegemoni budaya K-pop yang menggurita ke seluruh Asia bahkan dunia sehingga membuat orang-orang tertarik berkunjung ke negeri ginseng tersebut.

Berkunjung ke Seoul misalnya, nyaris selalu bisa dijumpai orang-orang berbahasa Indonesia di titik-titik destinasi wisata seperti di sepanjang Jalan Myeongdong dan pasar Dongdaemun.

Di kedua tempat itu, para wisatawan biasanya belanja habis-habisan. Mereka berburu kosmetik buatan Korea yang katanya punya kualitas bagus atau pernak-pernik Korea lain.

“Kosmetik di sini harganya bisa sepertiga harga di Jakarta. Selain itu, kalau belanja di sini pilihannya bisa jauh lebih banyak. Di Jakarta kita cuma punya 10 pilihan merk, tapi di sini bisa sampai ratusan,” kata Meilani Effendy, salah seorang wisatawan asal Jakarta di Seoul pada Sabtu (5/11).

Selain belanja kosmetik, para pelancong bisa dipastikan juga merogoh koceknya untuk menikmati berbagai K-food yang juga kian populer seiring dengan makin banyaknya penggemar tayangan K-drama.

ANTARA News/Ida Nurcahyani

Tekad baja bangkit dari kemiskinan

Namun, jauh sebelum Korea selatan menjadi seperti sekarang, negeri itu juga pernah terpuruk dalam kemiskinan.

Terpaut dua hari dengan Indonesia, Korea memproklamirkan kemerdekaannya dari Jepang pada 15 Agustus 1945.

Tak lama setelah itu, Korea mengalami perang saudara sekitar tahun 1950 hingga 1953 yang mencabik-cabik perekonomian dan stabilitas negara yang baru saja dibangun.

Pada saat itu, perekonomian rakyat hanya bergantung pada sektor pertanian dan perikanan, namun para pemimpin Korea memiliki semangat baja untuk memajukan negaranya.

Salah satu tonggak kemajuan Korea adalah pada tahun 1960an, saat di mana Presiden Park Chung-hee berniat mentransformasi negara Korea yang agraris menjadi negara industri.

Presiden pun memformulasi rencana pembangunan lima tahun (1962-1967) untuk fokus membangun industri baja yang merupakan induk dari segala industri yang ada.

Presiden Park kemudian menunjuk Park Tae-joon dari kalangan militer untuk memimpin pembangunan industri baja Korea.

Pada April 1968, pabrik baja pertama Pohang Iron and Steel Company (POSCO) didirikan dan memulai pembangunan konstruksi pabrik pertamanya di teluk Yeongil di Barat Daya Pohang pada April 1970.

Awalnya, tak ada yang percaya Korea mampu menjalankan pabrik baja karena negara itu memang tak memiliki modal, sumber daya alam, bahkan teknologi yang cukup. Namun, semangat baja yang menggelora dari rakyat Korea mampu membuktikan bahwa mereka mampu mengubah nasib.

Pada Juni 1973 pabrik baja mulai berjalan. Saat itu, kapasitas tahunannya hanya 1,03 juta metrik ton. Sejak saat itu, POSCO melakukan beberapa ekspansi dan produksi kian bertambah.

Kini, kapasitas produksi pabrik Pohang sekitar 18 juta ton per tahun.

Pada 1987 fasilitas kedua dibuka di Gwangyang. Sama seperti fasilitas di Pohang, pabrik Gwangyang juga memproduksi baja dari hulu hingga hilir. Bedanya, pabrik Gwangyang fokus memproduksi baja untuk industri otomotif. Kapasitas produksi pabrik Gwangyang sekitar 18 juta ton per tahun

Proses pembuatan baja di Gwangyang dimulai dari pengangkutan bijih besi yang diimpor dari berbagai belahan dunia, lalu dilelehkan menjadi besi lelehan di Blast Furnace atau tanur setinggi 100 meter.

Setelah itu, lelehan besi dibawa ke “Converter Furnace” di mana oksigen murni ditambahkan untuk menghilangkan zat-zat yang tak diinginkan seperti karbon, fosfor, dan belerang untuk menghasilkan baja leleh murni.

Pada tahap itu, suhu pelelehan disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Setelah itu, baja kemudian ditempa dan didinginkan menjadi baja padat, baja setengah jadi pun selesai, namanya “Slab”.

Proses pembuatan baja berlanjut ke proses “Rolling” atau proses penekanan baja mentah menjadi berbagai macam produk jadi. Slab diolah pada suhu 1.100 derajat Celcius untuk dipipihkan hingga menjadi lembaran baja panjang pipih.

Baja Hot-rolled (HR) atau baja canai panas biasa digunakan untuk bahan baku konstruksi dan pipa di berbagai macam industri.

Ketika HR diolah menjadi lebih pipih pada suhu ruangan, maka terbentuklah baja canai dingin atau cold-rolled (CR) yang digunakan untuk membuat barang-barang keperluan umum, tong dan rangka mobil.

Ada juga produk baja yang dilapisi Zinc atau seng untuk barang-barang peralatan rumah tangga mewah, perlengkapan kantor, dan eksterior mobil.

Produk lainnya adalah lempengan baja yang digunakan untuk pipa baja, infrastruktur gedung dan kapal.

Indonesia kekurangan baja

Berdasarkan studi POSCO Research Institute (POSRI), Indonesia masih kekurangan sekitar 6,7 juta ton baja tiap tahunnya. Kebutuhan itu utamanya untuk menggerakkan infrastruktur dalam negeri yang masih banyak membutuhkan baja.

“Berdasarkan data 2014, kebutuhan baja Indonesia adalah 13 juta ton, setengahnya yakni 6,5 juta ton sudah diproduksi dalam negeri dan setengahnya 6,5 juta ton masih diimpor,” kata Kepala peneliti dari POSCO Research Institute (POSRI) Kwang Sook Huh di Seoul pada Jumat (4/11).

Kebutuhan baja untuk konstruksi sekitar 66 persen atau 8,4 juta ton, untuk sektor otomotif 19 persen atau 2,4 juta ton, untuk permesinan 840 ribu ton dan untuk perkapalan sekitar 500 ribu ton.

“Jadi kalau dilihat kebutuhan baja Indonesia paling banyak untuk area konstruksi yakni 8,4 juta ton. Kebanyakan negara berkembang memang kebutuhan konstruksinya besar. Berdasarkan studi kami, perkiraan tahun 2025 pertumbuhan kebutuhan baja Indonesia naik 5,8 persen dengan total jumlah sekitar 24 juta ton. Dua kali lipat jumlah tahun 2014. Dibanding negara berkembang lain, kebutuhan Indonesia cukup tinggi perkembangannya,” kata Kwang.

Indonesia diprediksi masih kekurangan baja sekitar 17,6 juta ton pada 2025 dengan presentase kebutuhan setiap industri tak banyak berubah dengan presentase kebutuhan saat ini.

Saat ini, produksi baja dalam negeri hanya sekitar enam hingga tujuh juta ton pertahun. Padahal kebutuhan baja Indonesia menurut Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Zakir Sjakur Machmud, sekitar 13 hingga 14 juta ton per tahun.

“Mayoritas pabrik baja di Indonesia dikategorikan sebagai industri hilir, yang produknya banyak digunakan untuk konstruksi umum, transportasi dan industri mesin. Sedangkan kebanyakan produk baja yang diimpor adalah produk pertengahan atau midstream,” kata Zakir.

ANTARA News/Ida Nurcahyani

Indonesia basis Industri baja di Asia Pasifik

Presiden POSCO Kim Jin-Il mengatakan perusahaannya bersama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk akan mewujudkan produksi 10 juta ton baja di Cilegon, Banten.

“Hanya dengan dukungan dan motivasi dari pemerintah serta seluruh jajaran manajemen, maka industri baja suatu negara akan berkembang,” kata Kim pada Global Early Vendor Involvement (EVI) Forum 2016 di Songdo, Korea Selatan, Selasa (1/11).

Kluster baja 10 juta ton itu ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2025.

Seperti diketahui, proyek pertama POSCO dengan Krakatau Steel sudah beroperasi sejak 2014 dengan pembangunan pabrik baja berkapasitas 3 juta ton.

Nilai investasinya mencapai US$ 3,58 juta dengan pembagian investasi 70 persen POSCO, 50 persen Krakatau. Produknya berupa plate 1,5 juta ton dan slab 1,5 juta ton.

Untuk penambahan kapasitas produksi, PT Krakatau POSCO memproduksi Plate Mill 1,5 juta ton, dan Hot Strip Mill 1,5.

Setelah kluster 10 juta ton baja jadi, maka PT Krakatau POSCO akan memproduksi 4,5 juta ton Hot Strip Mill, 4 juta ton Cold Roll Mill dan 1,5 plat baja.

Lim Seung Kyu, Senior VP POSCO mengatakan saat ini Krakatau Steel sebenarnya sudah mampu memproduksi tiga juta ton baja billet dan PT Krakatau POSCO mampu menghasilkan tiga juta ton slab.

“Yang dimaksud kapasitas 10 juta ton adalah kapasitas yang sekarang diproduksi Krakatau Steel dan yang diproduksi PT Krakatau POSCO. Jadi masih ada kurang 3 juta ton lagi di hulu untuk menghasilkan slab, sedangkan yang satu juta ton bisa diperoleh dari impor. Berdasarkan pengalaman, 9 juta ton itu kapasitas pemasangan saja. Nanti setelah kita bisa produksi, ada peningkatan produktivitas ada peningkatan sampai 120 persen,” kata Lim.

Target sektor PT Krakatau Posco adalah menghasilkan baja untuk memenuhi kebutuhan industri otomotif Indonesia.

Lim memastikan, dengan dibangunnya kluster baru itu maka akan membuat Indonesia menjadi pusat baja di Asia Pasifik.

“Bagi POSCO Indonesia adalah negara paling strategis untuk usaha kami,” katanya.

Bangun SDM

Untuk membangun suatu industri, Lim Seung Kyu mengatakan Indonesia harus membangun sumber daya manusia (SDM) dulu.

“Yang menggerakkan industri adalah manusia, jadi ya memang SDM harus dibangun dulu. Di Korea, pendiri POSCO Park Tae Joon membangun banyak sekolah mulai dari SD, SMP, SMA sampai universitas. Jadi nanti di Indonesia kami tak hanya ingin membangun pabrik tapi juga membangun negeri,” kata Lim.

Salah satu upayanya kini adalah dengan mengirim sebanyak-banyaknya karyawan Indonesia ke Korea untuk belajar atau sebaliknya.

“Untuk bisa meningkatkan daya saing karyawan PT Krakatau POSCO sudah banyak yang ikut pelatihan sehingga know how bisa diambil alih karyawan lokal di sana. Contohnya, karyawan Indonesia di PT Krakatau POSCO dikirim ke Gwangyang dan Pohang untuk belajar teknologi karena bagaimanapun yang mengoperasikan pabrik nantinya adalah orang Indonesia. Sebaliknya, para teknisi terbaik di Korea dikirim ke Indonesia untuk transfer teknologi,” katanya.

Lebih lanjut Lim mengatakan, berbeda dengan negara lain, Korea sungguh-sungguh ingin membuka teknologi dan pengetahuannya tentang industri baja untuk Indonesia.

“Banyak teknologi yang akan dibuka nantinya, tapi dari sisi strategisnya baik di Gwangyang maupun di Pohang kita membuat produk baja premium, di situ banyak sekali teknologi yang harus diterapkan. Teknologi yang akan diberikan adalah produk yang bernilai tambah tinggi. Kita membangun pabrik di Cilegon dari hulu ke hilir. Produk akhir dimulai dari awal sekali, jadi ivestasi di hulu itu artinya memberikan segalanya. POSCO serius investasi di Indonesia, kami betul-betul ingin membangun industri baja di Indonesia,” katanya. – Equity world Futures