Equityworld Futures – Harga minyak mentah meroket ke puncak tertinggi satu bulan tadi malam setelah Menteri Energi Rusia turut mengungkapkan dukungannya bagi rencana diskusi OPEC bulan depan. Namun demikian, Selasa pagi ini (16/8) reli nampak kehabisan energi menjelang rilis data inventori minyak AS versi API nanti malam dan versi EIA esok hari.

Harga Minyak

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober saat ini nangkring di $48.01, agak lebih rendah dari puncak tertinggi sebelumnya $48.53 per barel. Sementara itu, minyak WTI untuk pengiriman September terpantau agak melandai dari kisaran $45.92 ke $45.44 per barel.

 

Rusia Dukung Stabilisasi, Venezuela Terancam Gulung Tikar

Harga terpantau melonjak setelah pernyataan Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih pekan lalu bahwa negaranya membuka diri untuk melakukan diskusi guna menstabilkan pasar minyak yang dibanjiri limpahan supply. Reli pun terus melaju pada Senin malam setelah Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan negaranya terus berdiskusi dengan Saudi dan negara-negara produsen minyak lainnya untuk mencapai kestabilan di pasar minyak.

“Mengenai kerjasama dengan Arab Saudi, dialog diantara kedua negara berkembang secara konkrit, baik dalam kerangka struktur multi-pihak maupun pada level bilateral,” ungkap Novak pada koran Asharq al-Awsat, sebagaimana dikutip Reuters, “Kami bekerjasama dalam kerangka konsultasi terkait pasar minyak dengan negata-negara OPEC dan para produsen di luar organisasi tersebut, dan berniat untuk melanjutkan dialog guna mencapai stabilitas pasar.”

Kabar tentang akan kolapsnya output minyak dari Venezuela juga turut menopang harga minyak di level tinggi satu bulan. Sebagaimana diketahui, Venezuela yang menyimpan salah satu cadangan minyak bumi terbesar di dunia, tengah mengalami krisis ekonomi dan politik berat. Akibatnya, produksi minyak pun terpangkas. Dalam waktu 12 bulan hingga Juni, output minyak mentah Venezuela telah anjlok 9 persen, demikian pula ekspor dan penjualan independen dari joint venture.

 

Dikhawatirkan Surplus Berlanjut

Namun, banyak analis tetap skeptis kalau OPEC akan mampu mengambil langkah signifikan dalam menstabilkan harga minyak dalam pertemuan informal di Aljazair bulan depan. Selain karena upaya serupa bulan April lalu telah gagal, kondisi saat ini tak mengindikasikan realisasi nyata dari itikad negara-negara OPEC. Iran yang sebelumnya menjadi ganjalan untuk tercapainya kesepakatan, hingga kini pun masih bersikeras untuk menggenjot produksi.

Apalagi, limpahan inventori minyak dan aktivitas pengeboran masih terus meningkat di Amerika Serikat, sebagaimana terlihat dalam laporan pekanan API, EIA, dan Baker Hughes dalam beberapa minggu terakhir. Ke depan, pelaku pasar akan memantau publikasi laporan API nanti malam, EIA esok hari, dan Baker Hughes di Jumat malam, selain tetap mencari tahu sinyal-sinyal lebih lanjut dari negara-negara OPEC.