Equityworld Futures – Harga minyak mentah nampak berupaya merangkak naik pada awal sesi perdagangan Asia hari ini (26/7). Akan tetapi, bias pasar masih cenderung bearish setelah Morgan Stanley mengeluarkan peringatan bahwa surplus produk hasil pengilangan tengah melejit. Menjelang rilis data persediaan minyak AS versi API nanti malam, peringatan tersebut membebani perspektif pelaku pasar.

Morgan Stanley

Pada perdagangan hari Senin kemarin, harga minyak mentah ambruk ke level terendahnya sejak akhir April, karenameningkatnya kecemasan pasar akan berlanjutnya surplus global. Saat berita ini ditulis, minyak mentah WTIdiperdagangkan pada kisaran harga $43.22 per barel, sedangkan harga acuan internasional Brent di sekitar $44.90.

Dalam sebuah laporan yang diulas oleh Bloomberg, analis Morgan Stanley memberikan peringatan tentang berlanjutnya oversupply produk-produk hasil pengilangan, sehubungan dengan membengkaknya persediaan gasolin ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pasalnya, persediaan gasolin di Amerika Serikat bertambah 0.91 juta barel pekan lalu, padahal BBM hasil distilasi juga telah meningkat 4.1 juta barel di pekan sebelumnya. Tren tersebut meningkatkan kecemasan kalau perusahaan-perusahaan kilang minyak bakal mengurangi pembelian minyak mentah mereka.

“Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tren permintaan minyak mentah berada di bawah permintaan produk hasil pengilangan… (Padahal) pengilangan minyak merupakan konsumen minyak mentah sesungguhnya, dan permintaan minyak mentah pada dasarnya lebih penting bagi keseimbangan (harga) minyak dibanding permintaan akan produk hasil pengilangan. Sehubungan dengan surplus produk hasil pengilangan di pasar, pupusnya margin (profit) perusahaan pengilangan, dan perlambatan ekonomi, kami memperkirakan permintaan minyak mentah untuk melorot lebih jauh dalam beberapa bulan ke depan.”

Singkat kata, para analis memprediksi permintaan minyak mentah global bakal bergerak dalam laju moderat saja, yaitu sebesar 625,000 bph di tahun 2016, jauh di bawah forecast International Energy Agency sebelumnya sebanyak 1.3 juta bph.

Di sisi lain, investor juga merespon kabar tentang konflik Libya. Pimpinan kelompok militan Petroleum Guard Commander, Ibrahim Jathran, mengumumkan siap menghentikan blokade di tiga pelabuhan utama Libya. Sebelumnya, upaya kelompok militan itu untuk menutup ladang-ladang minyak di sekitar Libya telah memaksa negeri tersebut untuk memangkas output besar-besaran.

Ke depan, investor akan memantau rilisan American Petroleum Institute tentang estimasi persediaan minyak mentah dan hasil pengilangan di Amerika Serikat nanti malam, dan data serupa dari Energy Information Agency (EIA) AS pada hari Rabu. Laporan EIA minggu lalu menunjukkan inventori minyak mentah turun lebih banyak dibanding perkiraan, tetapi mengindikasikan masih lesunya permintaan. – Equity world Futures