PT Equityworld, JAKARTA – Pemerintah telah menunjuk PT Pertamina (Persero) untuk mengelola blok migas

delapan yang kontraknya berakhir pada 2018.

Skema untuk produksi di blok delapan penggunaan otomatis skema perpecahan kotor,

dengan model semua biaya produksi adalah tanggung jawab operator.

Sementara itu, skema pembagian keuntungan yang sebelumnya digunakan pemulihan biaya, biaya produksi ditanggung oleh pemerintah.

Delapan blok migas yang usia tua lebih dari 30 tahun sehingga biaya produksi akan lebih tinggi daripada blok baru.

Dikhawatirkan menyebabkan produksi minyak dan gas pada 2019 bisa menurun karena kotor perpecahan menerapkan skema.

Pertamina akan menjadi pemain baru dalam enam blok migas yang akan habis masa kontraknya pada tahun 2018 bahwa,

sementara perusahaan telah ada sebagai operator di dua blok lainnya.

PT Equityworld |  8 Block Migas Garapan Pertamina

 

Delapan blok minyak dan gas yang ditugaskan untuk Pertamina yaitu Tuban Block (JOB Pertamina-PetroChina East Java),

Blok Ogan Ogan (JOB Pertamina-Talisman),

Sanga-Sanga (Virginia Oil Indonesia Company LLC / VICO),

Blok Sumatera Tenggara (CNOOC SES Ltd),

Sumatera Utara Blok Lepas Pantai, (Pertamina),

Blok Tengah (total E & P Indonesie),

Blok Kalimantan Timur (Indonesia Chevron Perusahaan),

dan Blok Attaka (Chevron). partisipasi saham blok Attaka, 50% dimiliki oleh Chevron Indonesia Company dan 50% Indonesia Petroleum (Inpex).

Di Blok SES, CNOOC SES Ltd menguasai saham 65,54%, 13,07% Inpex Sumatera,

Sumatera Cnoc Ltd 8,91%, Talisman UK Ltd Sumatera Tenggara 7,48%, dan Risco Energy Pte. Ltd 5%.

Semua saham partisipasi Blok Kalimantan Timur dikuasai oleh Chevron Indonesia Company.

Komposisi Sangasanga Blok saham, 26,25% dimiliki oleh BP Kalimantan Timur, Lasmo Sanga-Sanga 26,25%, Virginia International Co 15,62%, Upicol Houston Inc 20%, dan Universe Gas & Oil Company Inc 4,37%.

 

PT Equityworld |  8 Block Migas Garapan Pertamina

Gas analis Hulu dari Wood Mackenzie, analis perusahaan dan peneliti di bidang energi, Johan Utama mengatakan kontrak bagi hasil (production sharing contract / PSC) dengan skema bruto mendorong efi siensi membagi biaya untuk proyek yang lebih menguntungkan. Di sisi lain, manajemen umum bidang tua membutuhkan biaya yang lebih besar untuk mempertahankan produksi minyak dan gas.

Menurut dia, jumlah sumur yang tidak diaktifkan dapat meningkat jika biaya pembangunan tidak sesuai dengan skala ekonomi. Penurunan produksi, katanya, menjadi resiko yang harus otomatis diperhitungkan. Risiko meningkat karena selain transisi PSC PSC biaya bruto recovery dibagi juga beralih operator. Dalam laporan Wood Mackenzie, produksi minyak di mereka Pacific Asia k diperkirakan turun sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada tahun 2020.

news by PT Equityworld | ewf samarinda