Equityworld Futures – Harga minyak kembali melonjak dini hari tadi (12/8) setelah spekulasi mengenai rencana pertemuan baru OPEC guna mendiskusikan upaya stabilisasi pasar mendapatkan dukungan dari Menteri Energi Saudi. Namun demikian, limpahan surplus di pasar masih dinilai membebani harga.

Menteri Energi Saudi Khalid Al Falih

Harga acuan minyak berjangka internasional Brent pada sesi perdagangan terakhir kemarin mencapai puncak tertinggi bulanan pada $46.30 per barel, dan kini diperdagangkan tak jauh dari level tersebut pada kisaran $46.14. Minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) pun terpantau turut meroket ke $43.68 per barel. Ini merupakan kenaikan yang sangat besar mengingat pada sesi perdagangan pagi sebelumnya, Brent berada di kisaran $43.86 dan WTI pada $41.50.

Pada hari Kamis malam, Menteri Energi Arab Saudi, Khalid Al-Falih, menyatakan bahwa dalam sebuah pertemuan bulan depan di Aljazair, para produsen minyak akan mendiskusikan tindakan-tindakan yang mungki dilakukan untuk menstabilkan harga minyak. Secara tak langsung, ia mengamini usulan yang diajukan oleh Presiden OPEC dan didukung oleh Venezuela agar sebuah pertemuan informal yang berdampingan dengan International Energy Forum di Aljazair tanggal 26-28 September menjadi momen untuk mendiskusikan upaya-upaya untuk mencegah harga terus terpuruk.

Hal ini, menurut catatan ANZ Bank yang dikutip oleh Reuters, memicu harga melonjak dalam semalam. Selain itu, sebuah laporan yang dipublikasikan oleh International Energy Agency mengungkapkan bahwa lembaga tersebut mengekspektasikan keseimbangan supply dan demand akan membaik menjelang akhir tahun ini.

Meskipun demikian, harga minyak masih 12.5% lebih rendah dari puncak tertinggi tahun ini yang dicapainya pada bulan Juni. Limpahan surplus pun masih memenuhi tanki-tanki penyimpanan akibat produksi yang jauh melampaui permintaan pasar. Tak sedikit pula pakar yang sangsi kalau pertemuan OPEC bulan depan tersebut akan membuahkan hasil signifikan. – Equity world Futures