Baghdad (ANTARA News) – Perdana Menteri (PM) Irak Haidar al-Abadi menentang pengerahan pasukan darat asing di negaranya sebagai bagian dari upaya untuk melawan kelompok jihad.

Selama pertemuan dengan Menteri Pertahanan Australia David Johnston di Baghdad, Abadi menegaskan kembali “penolakannya pada intervensi darat apapun di Irak”, kata pernyataan dari Kantor Perdana Menteri Irak, Senin (22/9).

Amerika Serikat dan Prancis telah melakukan serangan udara terhadap kelompok jihad di Irak, kampanye yang mungkin akan diperluas sampai ke Suriah.

Tetapi Washington telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan menyebarkan pasukan darat ke negara tempat pasukannya terlibat perang berdarah dan berbiaya tinggi sebelum menarik diri pada akhir 2011.

Namun demikian, Amerika Serikat telah mengerahkan ratusan personel militernya ke Irak sejak Juni untuk tugas-tugas yang mencakup pendampingan pasukan Baghdad.

Pentagon telah mengatakan bahwa ia akan menerbangkan pesawat tempur dari pangkalan di wilayah otonomi Kurdi Irak sebagai bagian dari serangan udara “lebih agresif” terhadap gerilyawan garis keras Negara Islam (Islamic State/IS).

Kelompok jihad itu melancarkan serangan utama Juni, merebut kota kedua Irak, Mosul, dan kemudian menduduki banyak daratan Arab Sunni, dan menyapu pasukan keamanan negara berkaitan.

IS yang juga disebut Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan Negara Islam Irak dan Levant (ISISL) bulan lalu meluncurkan gerakan baru ke utara yang mendorong pasukan Kurdi kembali ke ibu kota mereka Arbil, memicu serangan udara Amerika. (Uu.H-AK)

Editor: Maryati