Istanbul (ANTARA News) – Turki ingin Tentara Pembebasan Suriah anti-Damaskus (FSA) mengontrol kota perbatasan Suriah Kobane jika kelompok Islam garis keras dikalahkan, dan bukan kekuatan separatis Kurdi atau Presiden Bashar al-Assad, kata Perdana Menteri Ahmet Davutoglu.

Dalam satu wawancara dengan siaran BBC, Selasa, Davutoglu menyerukan “Strategi terintegrasi” dengan Amerika Serikat untuk melengkapi dan melatih FSA dan menggulingkan Bashar dari kekuasaan.

Dia menunjukkan bahwa Turki hanya akan menawarkan pangkalan udara dan fasilitas-fasilitas lainnya untuk koalisi internasional melawan Negara Islam (IS) jika strategi seperti itu yang dikejar.

Amerika Serikat harus “melengkapi dan melatih Tentara Pembebasan Suriah sehingga jika ISIS tersingkir, rezim tidak harus datang,” katanya, menggunakan nama lain untuk IS.

“Jika ISIS meninggalkan kota itu teroris PKK tidak harus datang, jika ISIS disirnakan, pembantaian brutal seharusnya tidak dilanjutkan,” tambahnya.

“Jadi ada kebutuhan untuk satu strategi terpadu.”

Turki khawatir bahwa Kobane bisa diambil-alih oleh Kurdi bersekutu dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang telah melakukan pemberontakan tiga dekade untuk kekuasaan sendiri, dan dianggap sebagai kelompok teroris oleh Turki, Amerika Serikat dan sebagian besar negara Eropa.

Dia mengatakan, Turki akan mempersiapkan koalisi pimpinan AS untuk menggunakan fasilitas-fasilitasnya seperti pangkalan udara Incirlik untuk razia terhadap IS hanya jika “kita memiliki pemahaman bersama untuk pluralistik dan demokratis baru Suriah”.

Turki telah dikritik dalam beberapa pekan terakhir karena gagal membantu koalisi pimpinan AS dan pejuang Kurdi berusaha untuk mencegah IS mengambil alih Kobane, yang terletak hanya beberapa kilometer dari perbatasan Turki.

Satu kontingen pejuang Kurdi Peshmerga dari Irak utara diharapkan transit di Turki untuk meningkatkan pertahanan Kobane dalam beberapa hari mendatang, dengan bala bantuan dari FSA, demikian AFP.
(H-AK)

Editor: Ruslan Burhani