Kendari (ANTARA News) – Presiden Joko Widodo mengatakan siap tidak populer terkait kebijakan bahan-bakar minyak (BBM) bersubsidi.

“Ada yang bilang nanti tidak populer, saya jadi pemimpin bukan untuk populer kok. Itu tanggung jawab pemimpin, kebijakan pasti ada risikonya,” kata Presiden saat membuka Munas Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama) di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis.

Ia mengatakan, selama lima tahun terakhir, subsidi  BBM yang digelontorkan pemerintah sebesar Rp714 triliun, untuk infrastruktur hanya Rp577 triliun dan kesehatan Rp202 triliun.

“Kita ini boros, kita ini konsumtif. Yang justru kita bakar Rp714 triliun tiap hari. Coba kalau ini dibuat bendungan jadi berapa. Kalau Rp400 M satu bendungan, bisa menjadi 1.400 waduk,” katanya.

“Subsidi BBM kita alihkan dari konsumtif ke tempat yang produktif. Ke irigasi, bendungan, subsidi pupuk untuk petani, subsidi benih untuk petani, mesin untuk nelayan,” kata Presiden.

Lebih lanjut Presiden mengatakan kebijakan mengurangi subsidi BBM masih dihitung.

“Kalau kalkulasinya sudah matang, kartu perlindungan sudah matang, kemungkinan bulan ini belum bisa saya sampaikan, kalau sudah saya putuskan kalian akan tahu,” katanya kepada wartawan seusai membuka Munas Kagama.

COPYRIGHT © ANTARA 2014