1
Equity World Futures – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga perdagangan siang terlihat masih sulit keluar dari zona merah, setelah melanjutkan tren negatif sejak sesi pembukaan pagi tadi. Terpuruknya mata uang rupiah mengiringi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Menurut Yahoo Finance, rupiah hingga perdagangan sesi I berada di posisi Rp14.380/USD atau stagnan dari posisi penutupan sebelumnya di level yang sama. Rupiah sendiri bergerak pada kisaran level Rp14.373-Rp14.416/USD.

Posisi rupiah berdasarkan data Bloomberg, siang ini berada di level Rp14.387/USD atau tercatat tidak lebih baik dibandingkan akhir pekan kemarin pada posisi Rp14.378/USD. Siang ini tercatat rupiah bergerak pada kisaran harian Rp14.387 hingga Rp14.416/USD.

Menurut data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah tertahan dalam jalur pelemahan pada level Rp14.396/USD. Posisi ini memburuk dari posisi sebelumnya di level Rp14.358/USD.

Di sisi lain IHSG pada sesi I perdagangan terus merosot menjadi 5,886.22 usai kehilangan 57,86 poin atau 0.97% setelah pagi tadi menguat naik 9.089 poin atau setara 0,153% menjadi 5.953. Kemarin, IHSG ditutup lebih tinggi 36,20 poin atau 0,61% menjadi 5.944,07.

Sektor saham dalam negeri hingga perdagangan siang ini secara keseluruhan bergerak pada jalur negatif. Pelemahan cukup dalam terjadi pada sektor industri dasar yang anjlok minus 1,86% diikuti aneka industri turun 1,85%.

Adapun nilai transaksi pada bursa Indonesia tercatat sebesar Rp2,57 miliar dengan 3,52 juta saham diperdagangkan pada sesi siang hari ini dan transaksi bersih asing Rp-63,41 miliar dengan aksi jual asing sebesar Rp808,32 miliar dan aksi beli asing mencapai Rp744,91 miliar. Tercatat 149 saham naik, 233 turun dan 108 saham mendatar.

Beberapa saham yang menguat di antaranya PT Cita Mineral Investindo Tbk. (CITA), PT Asahimas Flat Glass Tbk. (AMFG) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). Sedangkan saham-saham yang melemah yakni PT Astra International Tbk. (ASII), PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) serta PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL).

Equity World Futures