PT Equityworld Futures : OPEC+ Tidak Sepakat Pemangkasan Tambahan, Emas Lanjutkan Penguatan

PT Equityworld Futures : OPEC+ Tidak Sepakat Pemangkasan Tambahan, Emas Lanjutkan Penguatan

PT Equityworld Futures : OPEC+ Tidak Sepakat Pemangkasan Tambahan, Emas Lanjutkan Penguatan

Equityworld Futures – Semua menyambut keputusan yang baru ditegaskan kembali dari pemimpin OPEC Rusia, Vladimir Putin.

Sepertinya Abdulaziz bin Salman tidak memberikan kejutan yang cukup selama beberapa minggu terakhir, Menteri Energi Saudi itu malah mendapat kejutan lagisetempat ketika ia mengetahui Moskow tidak siap menyetujui pemotongan pasokan tambahan yang diusulkan oleh Riyadh dan mitra lainnya dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Pengurangan yang lebih dalam, seperti yang diketahui oleh siapa pun di pasar minyak, merupakan kunci pemulihan kepercayaan bagi investor untuk mulai menawar kembali harga minyak mentah di pasar minyak yang lemah ini.

Apakah pemotongan itu benar-benar diperlukan – persis poin yang menghambat keputusan Rusia – masih bisa diperdebatkan, karena tidak ada yang benar-benar tahu berapa lama lagi dan lebih buruk lagi krisis virus korona di Cina bisa berdampak.

Teori logisnya begitu obat ditemukan untuk patogen ini, permintaan minyak – dan hampir semua hal lain yang berjumlah besar dibeli oleh Cina – harus segera memperbaikinya sendiri.

Namun seperti dalam krisis apa pun, berbagai upaya perbaikan diperlukan untuk meredakan kekhawatiran bahwa segala sesuatu yang mungkin bisa dilakukan secara manusiawi – sampai solusi definitif itu muncul.

Pada kasus minyak, akal sehat memberitahu kita bahwa rencana OPEC untuk membatasi produksi sebanyak 600.000 barel per hari, di atas janji sebelumnya untuk memangkas 1,2-2,1 juta barel per hari, bisa berdampak jauh dalam menenangkan pasar yang menurut perkiraan Bloomberg telah kehilangan jumlah pembelian Cina sebanyak 3 juta bph hanya dalam waktu tiga minggu.

Namun, bukan itu yang dilihat Kremlin.

Dalam pernyataan Menteri Energi Alexander Novak, Rusia memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memutuskan apakah akan bergabung dengan pengurangan produksi minyak tambahan yang diusulkan oleh OPEC karena percaya pertumbuhan produksi minyak AS bisa melambat sementara permintaan global tetap kuat.

Sekarang, kita semua telah mendengar tentang puncak produksi minyak serpih dan bagaimana produksi minyak AS dapat mengalami penurunan yang stabil. Meskipun demikian, Badan Informasi Energi (EIA) AS terus memperkirakan produksi semakin tinggi tiap tahun. Misalnya, Menteri Energi AS Dan Brouillette mengatakan Jumat bahwa rekor produksi AS saat ini sebanyak 13 juta barel per hari dapat mencapai 15 hingga 16 juta di tahun-tahun mendatang.

Banyak yang akan setuju dengan Brouillette mengenai prospek minyak serpih yang menjanjikan itu, minyak menemui level puncak atau tidak. Tetapi sulit untuk membayangkan ada orang yang setuju dengan teori Novak bahwa permintaan minyak menguat ketika kilang terlihat memproduksi lebih sedikit minyak mentah dan maskapai penerbangan juga mengkonsumsi sedikit bahan bakar jet setiap harinya akibat dari krisis virus korona.

Tentu saja, kami juga tahu bahwa apa pun yang kami dengar dari Novak tidak diputuskan olehnya, karena tidak ada hal sepenting ini bagi Rusia yang dapat diputuskan oleh siapa pun selain presiden Rusia, Putin.

Apa yang aneh adalah bahwa keragu-raguan Rusia pada OPEC muncul dalam waktu kurang dari seminggu setelah Putin dan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz membahas pasar energi global melalui panggilan telepon Senin malam silam, di mana kedua pemimpin ini menegaskan “kesiapan mereka untuk melanjutkan kerjasama pada OPEC+,”

Tetapi siapa pun yang telah mengikuti perkembangan OPEC cukup lama juga akan tahu bahwa tatkala Arab Saudi resmi memimpin kelompok yang beranggotakan 13 negara itu, kekuatan Rusia sebagai mitra kelompok itu telah tumbuh sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir, mengingat produksi minyak mentah Moskow yang lebih tinggi. Sementara Amerika Serikat merupakan produsen minyak nomor satu di dunia, struktur independen sektor pengeboran AS yang mencegah negara dalam berpartisipasi pada setiap pemotongan OPEC, membuat kelompok tersebut ada di bawah bayang-bayang kekuasaan kerjasama Rusia.

Sejak putaran pertama pemotongan Riyadh-Moskow pada tahun 2016 lalu yang meluncurkan apa yang disebut manipulasi pasokan minyak OPEC+, Saudi semakin bergantung pada Putin untuk melakukan pekerjaan yang berat dalam kelompok itu guna menaikkan harga minyak mentah. Ini terjadi meski Saudi menyumbang bagian terbesar pada setiap putaran pemangkasan dan Rusia nyaris tidak memenuhi target mereka.

Untuk pertama kalinya dalam ingatan baru-baru ini, pertemuan OPEC minggu ini diperpanjang untuk hari ketiga tanpa ada jadwal dari Rusia yang berencana mengurangi pasokan. Terlepas dari drama itu, Putin bisa memutuskan pada Senin pagi setempat bahwa pemangkasan produksi tambahan sebanyak 600.000 barel per hari diperlukan, dan harga minyak mentah bisa mendapatkan kekuatannya.

Namun, maksudnya adalah: Abdulaziz tampak sangat mandiri ketika ia mengambil pekerjaan minyak yang penting dan juga mengurus OPEC pada bulan September di Arab Saudi, berjanji untuk bertindak keras terhadap anggota yang melampaui produksi dan jika perlu ia “bertindak sendiri” untuk menjaga keseimbangan pasar. Krisis virus korona telah mengekspos betapa rentannya Saudi dan negara OPEC lain tanpa mitra utamanya, Rusia.

Seperti pendahulunya Khalid al-Falih, Abdulaziz juga mulai menyadari bahwa ketika ia duduk di atas takhta OPEC, bos kelompok itu sebenarnya adalah Putin, yang tidak menghadiri satu pun pertemuan kelompok itu.

Sementara di logam kuning, bagaimana dampak virus korona terhadap komoditas ini?

Itu tampaknya menjadi pertanyaan yang belum diputuskan karena emas berjangka membukukan kerugian mingguan pertama pada Jumat lalu sambil tetap bertahan di atas level support kunci $1.500 per ons – menciptakan teka-teki bagi investor untuk jangka pendek ke mana arah logam kuning melaju.

Tinjauan Energi

Harga minyak membukukan kerugian mingguan kelima berturut-turut pada hari Jumat.

Brent, minyak mentah acuan yang diperdagangkan di London, bergerak turun 46 sen, atau 0,9%, di $54,47 per barel.

Minyak West Texas Intermediate (Minyak Mentah WTI Berjangka) yang diperdagangkan di New York, minyak mentah acuan di AS, turun 63 sen, atau 1,2%, ke $50,32.

Untuk sepekan, Minyak Brent Berjangka turun sebesar 6,3% dan WTI berkurang 2,4%. Gabungan kerugian selama lima minggu mencapai jumlah lebih dari 22% untuk kedua tolok ukur minyak tersebut, membuat keduanya masuk dalam wilayah pasar bearish.

“Harga minyak tidak dapat menghilangkan virus korona,”

“Laporan yang saling bertentangan mengenai seberapa baik penanggulangan virus itu meningkatkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi”

OPEC telah berkomitmen memotong sebanyak 2,1 juta barel per hari, atau sekitar 2,1% dari permintaan global pada kuartal ini bahkan sebelum wabah virus korona telah menewaskan 630 orang lebih dan menginfeksi 31.000 lainnya di Cina di saat juga menyebar ke setidaknya 25 negara.

Usulan OPEC memangkas 600.000 barel per hari guna mengimbangi kekhawatiran akan pandemi telah dihentikan oleh Rusia.

Minyak mengakhiri bulan Januari dengan mengantongi kerugian bulanan terburuk selama lebih dari satu tahun karena seluruh industri mulai dari sektor manufaktur mobil hingga sektor pariwisata pada negara importir energi terbesar Cina lumpuh akibat pandemi virus korona.

Kalender Energi Ke Depan

Senin, 10 Februari

Data perkiraan persediaan minyak Cushing dari Genscape

Selasa, 11 Februari

Laporan mingguan pasokan minyak American Petroleum Institute.

Rabu, 12 Februari

Laporan mingguan dari EIA tentang persediaan minyak

Kamis, 13 Februari

Laporan mingguan gas alam dari EIA

Jumat, 14 Februari

Jumlah rig mingguan Baker Hughes.

Tinjauan Logam Mulia

Harga emas tetap stabil di atas level kritis $1.500 dengan tren cenderung positif dan logam kuning ini mencatatkan kerugian mingguan pertama pada hari Jumat setelah aksi ambil untung pada kenaikan terbaru dipicu oleh ketakutan virus korona.

Emas Berjangka COMEX untuk penyerahan April di New York ditutup naik $3,40, atau 0,2%, di $1,573.40 per ons, naik selama tiga hari berturut-turut.

Tetapi untuk sepekan, emas April turun 0,6%, pertama kali turun dalam sepekan sejak pertengahan Desember, data Investing.com menunjukkan. Penurunan ini terjadi pada akhir minggu yang relatif bergelombang pada emas dengan beberapa investor mengambil untung dari kenaikan terbaru setelah ketakutan global atas virus korona agak mereda.

XAU/USD, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, naik $5,62, atau 0,4%, di $1,572.18 pada pukul 2:40 PM ET (19:40 GMT). Pada basis mingguan, indikator emas ini turun 1,1%, penurunan pertama dalam tiga minggu.

Kerugian mingguan emas ini ditahan dengan penurunan yang terjadi di pasar saham AS, yang mengabaikan laporan pekerjaan positif di AS pada hari Jumat akibat kekhawatiran tentang perjuangan Cina untuk menanggulangi pandemi virus yang telah menewaskan lebih 630 orang dan menginfeksi 31.000 lainnya di dunia.

Emas masih menjadi lindung nilai untuk berita utama politik, ekonomi dan pasar saham yang dapat memicu pembalikan cepat,”

“Ekspektasi kisaran perdagangan emas antara $1550-1600 bakal berlanjut.”

Harga emas telah menguat ke level $1.600 lantaran investor awalnya masuk ke logam kuning ini untuk melakukan lindung nilai terhadap kelemahan di pasar global.

 

 

 

Equityworld Futures