1
EquityWorld Futures – Tren penerbitan surat utang korporasi masih tumbuh positif. Menurut lembaga pemeringkat surat utang, Fitch Ratings Indonesia memperkirakan nilai penerbitan surat utang korporasi dalam negeri di tahun ini akan mengalami peningkatan sebesar 10% menjadi kisaran Rp130 triliun-Rp140 triliun.

Rating Director Fitch Ratings Indonesia Eddy Handali mengatakan, penerbitan surat utang tersebut sebagian besar untuk membayar utang yang jatuh tempo dan kebutuhan pendanaan ekspansi.

“Kita lihat ada peningkatan dari tahun lalu menjadi Rp130 triliun-Rp 140 triliun, naik 10% sekitar segitu. Secara historikal pada 2018 itu turun dari 2017, tahun ini membaik disamping ada refinancing utang jatuh tempo sebesar Rp 115 triliun,”

Disampaikannya, tahun ini kembali menjadi momentum pertumbuhan untuk penerbitan surat utang setelah di tahun lalu korporasi cenderung menahan diri karena banyaknya ketidakpastian yang muncul di pasar dan berdampak ke dalam negeri.

Menurut dia, korporasi di tahun ini sudah mulai mendapatkan kepastian dari faktor global seperti perang dagang dan kondisi rupiah terhadap dolar yang sudah mulai menguat kembali. Sehingga perusahaan-perusahaan dinilai sudah siap kembali untuk melakukan ekspansi.

Disamping itu, jika dilihat dari skenario bakal terjadinya pengetatan moneter oleh Amerika, korporasi di dalam negeri dinilai sudah lebih siap dibandingkan dengan kondisi pada 2013.

Perusahaan domestik saat ini telah melakukan hedging untuk utang-utang luar negeri sehingga tak ada lagi ketakutan kurangnya likuiditas. Selain itu, dari sisi perbankan besar yang mengusai 65% pangsa pasar di Indonesia sudah memiliki permodalan yang cukup, jauh lebih baik dibanding bank di regional sehingga mereka mampu menyerap kerugian.

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan jumlah penerbitan surat utang korporasi pada 2019 akan berada di kisaran Rp130 triliun hingga Rp170 triliun. Proyeksi itu tak berbeda jauh dari ramalan sepanjang tahun ini yang diprediksi berkisar Rp120 triliun hingga Rp170 triliun. Namun nilai itu menyusut dari realisasi sepanjang tahun lalu yang mencapai Rp183 triliun.

Ekonom Pefindo, Fikri C Permana pernah bilang, emiten-emiten dengan melihat biaya dana yang tinggi seperti sekarang akan memutar otak kira-kira sumber pendanaan yang cocok dengan sumber pendapatan mereka seperti apa.

Disebutkan, penerbitan surat utang tersebut meliputi obligasi konvensional, sukuk, surat utang jangka menengah (MTN), hingga sekuritisasi menjadi pilihannya.

Menurut Fikri, tingginya biaya dana (cost of fund) masih menjadi tantangan bagi emiten. Hal itu dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebagai respons dari kondisi pasar keuangan global. Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun pada 2019 akan mencapai 8,6% atau naik dari proyeksi akhir tahun ini, 8,4%.

Tahun ini, tantangan masih berasal dari kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, dan isu perang dagang yang diikuti perang mata uang. Risiko di negara berkembang masih tinggi, sehingga berpotensi mendorong aliran modal keluar.

EquityWorld Futures