Equityworld Futures – PT Garuda Indonesia (Persero) mengundang 10 pengusaha pariwisata dari China datang ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, agar mereka membuat paket wisata ke provinsi tetangga Bali itu.

“Kami mengundang mereka untuk datang ke Lombok selama satu minggu mulai 28 November hingga 4 Desember 2016,” kata General Manager PT Garuda Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Barat, Dasep M Suanda, di Mataram, Minggu.

Ia mengatakan, 10 agen perjalanan wisata dari Tiongkok tersebut akan diajak mengunjungi beberapa obyek wisata di Pulau Lombok. Misalnya, Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, di Kabupaten Lombok Utara.

Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika Resort, di Kabupaten Lombok Tengah. Kawasan wisata itu sedang dalam proses pembangunan oleh PT Indonesia Tourism Development Corporation selaku BUMN.

“Setelah melihat potensi, kami harapkan sekembali dari Lombok, mereka membuat paket wisata dari Tiongkok ke Lombok,” ujarnya.

PT Garuda Indonesia, kata Dasep, berkewajiban mendukung upaya Pemerintah Provinsi NTB mengembangkan pariwisata, sehingga tidak hanya menjadi penikmat saja.

Selama ini, kata dia, wisatawan dari China lebih banyak ke Bali. Hal itu terlihat dari rencana penambahan layanan penerbangan dari beberapa daerah di China alias China menuju Bali, salah satunya Guangzhou.

“Ada juga rencana membuka layanan penerbangan dari Tiongkok menuju Manado dan Medan,” tuturnya.

Menurut Dasep, pasar wisatawan asal China cukup bagus. Potensi tersebut harus bisa ditangkap oleh NTB yang memiliki keunggulan destinasi wisata dibanding daerah lain di Indonesia.

Upaya menangkap peluang pasar tersebut tentu harus dilakukan oleh semua pihak terkait, baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, dan para pelaku usaha di bidang jasa pariwisata.

Menurut Dasep, pasar wisatawan asal China cukup bagus. Potensi tersebut harus bisa ditangkap oleh NTB yang memiliki keunggulan destinasi wisata dibanding daerah lain di Indonesia.

Upaya menangkap peluang pasar tersebut tentu harus dilakukan oleh semua pihak terkait, baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, dan para pelaku usaha di bidang jasa pariwisata.
Menurut Dasep, pasar wisatawan asal China cukup bagus. Potensi tersebut harus bisa ditangkap oleh NTB yang memiliki keunggulan destinasi wisata dibanding daerah lain di Indonesia.

Upaya menangkap peluang pasar tersebut tentu harus dilakukan oleh semua pihak terkait, baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, dan para pelaku usaha di bidang jasa pariwisata.
Menurut Dasep, pasar wisatawan asal China cukup bagus. Potensi tersebut harus bisa ditangkap oleh NTB yang memiliki keunggulan destinasi wisata dibanding daerah lain di Indonesia.

Upaya menangkap peluang pasar tersebut tentu harus dilakukan oleh semua pihak terkait, baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, dan para pelaku usaha di bidang jasa pariwisata.
Menurut Dasep, pasar wisatawan asal China cukup bagus. Potensi tersebut harus bisa ditangkap oleh NTB yang memiliki keunggulan destinasi wisata dibanding daerah lain di Indonesia.

Upaya menangkap peluang pasar tersebut tentu harus dilakukan oleh semua pihak terkait, baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, dan para pelaku usaha di bidang jasa pariwisata.
Menurut Dasep, pasar wisatawan asal China cukup bagus. Potensi tersebut harus bisa ditangkap oleh NTB yang memiliki keunggulan destinasi wisata dibanding daerah lain di Indonesia.

Upaya menangkap peluang pasar tersebut tentu harus dilakukan oleh semua pihak terkait, baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, dan para pelaku usaha di bidang jasa pariwisata.
Menurut Dasep, pasar wisatawan asal China cukup bagus. Potensi tersebut harus bisa ditangkap oleh NTB yang memiliki keunggulan destinasi wisata dibanding daerah lain di Indonesia.

Upaya menangkap peluang pasar tersebut tentu harus dilakukan oleh semua pihak terkait, baik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, dan para pelaku usaha di bidang jasa pariwisata.

“Garuda juga bersinergi dengan Disbudpar NTB dan Badan Promosi Pariwisata Daerah NTB, dalam menangkap peluang pasar wisatawan asal China,” ucap Dasep. – Equity world Futures