Jakarta (ANTARA News) – Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo berharap dualisme antara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) segera selesai.

Menurut Roy di bandara Soekarno Hatta, Minggu malam, keberadaan dua organisasi itu terlihat seperti dua pihak yang bekerja untuk hal yang sama tapi tidak pernah bertemu dan berkoordinasi.

Roy mengibaratkan KONI dan KOI seperti koki dan pramusaji di sebuah restoran yang tidak pernah bertemu sehingga tidak bisa melayani tamu dengan baik.

“Dengan terpisah, ibaratnya seperti koki dan pramusaji yang tidak ketemu. Pramuji catat pesanan pelanggan nasi goreng pedas, tapi tidak terbaca koki, akhirnya dibuatkan nasi goreng panas oleh koki. Makanya permintaan pelanggan tidak bisa dipenuhi,” katanya.

Ia menuturkan ada banyak hal yang tidak selayaknya diterima oleh para atlet akibat dualisme KONI-KOI.

Buruknya koordinasi KONI-KOI, tambah Roy, bisa dilihat dari prestasi atlet di Asian Games Incheon 2014

Indonesia. lanjutnya, baru  mengumpulkan dua medali perak dari cabang olahraga wushu dan angkat besi dan berada di posisi ke-9 (perolehan sementara hingga Minggu petang).

“Makanya jangan kaget dengan prestasi atlet di Incheon, itu karena buruknya koordinasi di sini juga. Kami juga sudah cairkan semua anggaran, tapi entah bagaimana di lapangan,” katanya.

Editor: Aditia Maruli