Equityworld Futures – Harga minyak naik nyaris 3% pada hari Senin kemarin (8/9) setelah berkembangnya spekulasi bahwa OPEC akan kembali mencoba mengendalikan output mereka. Rumor yang muncul tersebut didukung oleh pernyataan presiden OPEC dan menteri energi Rusia, sehingga melonggarkan kekhawatiran akan limpahan surplus minyak yang sebelumnya telah menekan harga hingga anjlok ke level rendah tiga bulan. Namun, pelaku pasar masih cenderung bersikap hati-hati.

Presiden OPEC

 

OPEC Bakal Bekukan Output Pada September?

The Wall Street Journal akhir pekan lalu melaporkan bahwa negara-negara OPEC seperti Venezuela, Ekuador, dan Kuwait, ingin merintis lagi kerjasama antara ke-14 negara anggota OPEC dengan non-anggota seperti Rusia, guna mengendalikan suplai minyak global. Alternatif sejenis berupa pembekuan level output sebelumnyagagal pada bulan April setelah Iran menampik tuntutan untuk bergabung dalam kesepakatan, sedangkan Arab Saudi menolak untuk menjalankan jika tak semua negara anggota OPEC berjanji akan melakukannya.

Menteri Energi Qatar yang juga berperan sebagai Presiden OPEC saat ini, Mohammad bin Saleh al-Sada, kemarin menyatakan bahwa penurunan harga minyak baru-baru ini dan volatilitas pasar sekarang hanyalah sementara saja. Di samping itu, ia mengindikasikan kalau OPEC terus memonitor perkembangan dan selalu menggelar diskusi aktif untuk menstabilkan pasar.

Komentar tersebut makin memperkuat spekulasi akan diupayakannya kembali kerjasama pembekuan output, kemungkinan pada pertemuan informal yang berdampingan dengan International Energy Forum di Aljazair tanggal 26-28 September. Apalagi, Menteri Energi Rusia, negara produsen minyak terbesar dunia, pun mengungkapkan bahwa meski pihaknya menilai harga minyak mentah tidak berada pada level yang memerlukan intervensi, tetapi ia tetap terbuka untuk bernegosiasi dengan OPEC.

 

Reli Harga Minyak Masih Diragukan

Akan tetapi, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin harga minyak akan pulih kembali.

Sebagian pakar yang diwawancarai Reuters menganggap bahwa intervensi OPEC tak terhindarkan, karena adanya kerisauan gara-gara meningkatnya jumlah sumur minyak AS dan pelemahan permintaan minyak. Pasalnya, Baker Hughes di hari Sabtu lalu melaporkan bahwa jumlah oil drilling rigs di negeri Paman Sam telah meningkat untuk pekan keenam berturut-turut, sementara persediaan minyak mentah bukannya menurun malah makin bertambah.

Namun demikian, sebagian partisipan pasar menyikapi kenaikan harga minyak saat ini dengan lebih hati-hati. Tadi malam saja, harga minyak sempat naik 4% ke harga tertinggi dalam satu sesi, tetapi kemudian melandai menjelang penutupan pasar setelah muncul kabar bahwa Pelabuhan Minyak Offshore Louisiana akan meningkatkan kapasitasnya sebesar 2.5 juta barel pada April 2017.

Matthew Tuttle dari Tuttle Tactical Management di Connecticut, Amerika Serikat, mengatakan, “Hingga terbukti sebaliknya, (reli harga minyak) ini masih merupakan koreksi di pasar bearish (kenaikan harga sementara saja)… Anda bisa mengalami pergerakan (harga) masif seperti ini, dan jika Anda bisa men-trading-kannya, (itu) hebat. Tetapi jika Anda ingin melihat reli lagi hingga $50 dan lebih dari itu, Saya tak siap (memproyeksikannya). Saya kira kita masih akan melihat harga turun ke bawah $35 per barel sebelum sampai ke $50.”

Harga minyak WTI saat ini berada pada kisaran $42.60 per barel, sedikit lebih rendah dari penutupan tadi malam pada $43.02, tetapi masih di atas level rendah $40 yang terpijak pekan lalu. Sementara itu, minyak Brent kini diperdagangkan di kisaran $44.95, padahal tadi malam ditutup pada $45.39 per barel. – Equity world Futures