Equityworld Futures – Harga minyak mengalami kenaikan pesat tadi malam dan berlanjut hingga pagi ini (4/8). Penurunan persediaan gasolin AS memicu para spekulator untuk tutup posisi dan mengunci profit, sehingga disinyalir meredakan aksi jual yang sebelumnya marak. Namun demikian, secara fundamental limpahan surplus sejatinya masih berlangsung.

ilustrasi

Harga minyak mentah jenis light sweet di New York Mercantile Exchange (WTI) naik 3.3% ke $40.83 tadi malam, dan menanjak lagi ke $41.12 pagi ini. Demikian pula harga acuan internasional Brent melonjak lebih dari 3% ke $43.10, dan kini berada di kisaran $43.32 per barel.

 

Produsen Tak Bisa Break Even Di Harga $40

Banyak pelaku pasar berjangka bertaruh melawan minyak dalam beberapa pekan belakangan akibat limpahan surplus produksi. Karenanya, ketika mereka mulai melakukan pembelian, maka hal itu membuat harga sontak naik. Para investor yang diwawancarai oleh The Wall Street Journal menyatakan bahwa mereka lebih tertarik untuk membeli minyak dan kurang tertarik untuk melakukan aksi jual seiring dengan makin jauhnya harga dari ambang $50 per barel. Pasalnya, ditengarai para produsen minyak AS bisa break even di harga $50, tetapi tak banyak bisa di harga $40, sehingga harga di kisaran $40 atau lebih rendah dari itu diharapkan akan memicu penurunan supply.

Terlebih lagi, data yang dirilis Rabu malam oleh US Energy Information Administration (EIA) menunjukkanpenurunan persediaan gasolin sebanyak 3.3 juta barel (ekspektasi penurunan 300,000 barel). Walaupun persediaan minyak mentah mematahkan ekspektasi -1.363 juta dan malah bertambah 1.413 juta barel, tetapi penurunan persediaan gasolin dinilai sebagai kabar baik. Ini karena, dengan persediaan minyak mentah yang terus meningkat, jika gasolin tak juga menurun maka bisa menjadi pemicu harga jatuh lebih jauh.

 

Produksi Global Masih Terus Membubung

Meski begitu, penurunan persediaan gasolin dan kenaikan harga saat ini dipandang skeptis oleh banyak pihak. Scott Shelton dari ICAP PLC mengatakan pada The Wall Street Journal, “(Penurunan) angka gasolin adalah satu langkah ke arah yang tepat, itu sudah pasti. Namun kita masih belum bisa menurunkan (persediaan) minyak mentah, jadi fakta bahwa (harga) minyak mentah naik itu adalah misteri bagi saya.”

Senada dengan Shelton, Donald Morton dari Herbert J. Sims & Co mengungkapkan bahwa meski penurunan persediaan gasolin itu lebih tinggi dari ekspektasi, tetapi masih dalam kisaran normal secara historis danpasar akan butuh beberapa kali lagi penurunan untuk benar-benar menyusutkan tingginya persediaan di AS.

Apalagi, produksi minyak di negara-negara lain tak menunjukkan tanda-tanda akan melambat. Ekspor minyak mentah Rusia dikabarkan naik di bulan Juli, dan produksi meningkat secara YoY untuk bulan ke-24 berturut-turut. Suplai dari Nigeria dan Libya pun diekspektasikan akan meninggi dalam waktu dekat seiring terpecahkannya isu-isu konflik dan politik yang sebelumnya membayangi kedua negara itu. – Equity world Futures