Equityworld Futures – Pernahkah merasakan warkop—warung kopi—goyang sambil deg-degan?.

Selain menu kopi Ulee Kareng dan Mie Aceh, ada menu tambahan lainnya berupa merasakan goyangan gempa lanjutan di wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh pascagempa tektonik 6,5 Skala Richter (SR).

Apa pasalnya?, gempa susulan sesekali terjadi. Apalagi saat tengah meneguk panasnya kopi khas daerah tersebut, pengunjung harus terperanjat segera ke luar dari warkop yang kebanyakan berbentuk rumah toko (ruko) itu.

“Gempa, gempa, gempa,” teriak pengunjung warkop sambil tergopoh-gopoh ke luar.

Tak pelak lagi, seluruh pengunjung ikut-ikutan lari termasuk pelayan dan pemilik warkop itu. Setelah goyangan yang hanya beberapa detik saja, satu-satu persatu pengunjung masuk kembali sembari tetap deg-degan.

Merekapun melanjutkan perbicangan di hadapan segelas kopi Ulee Kareng itu bersama rekan-rekannya. Mereka masih trauma akan terulangnya gempa apalagi guncangan gempa susulan itu terasa naik turun bukan mendatar.

“Itu Pak, lihat retakan,” kata salah seorang pengunjung warkop sambil menunjuk tembok yang tepat di belakang bekas tempat duduknya. “Saya takut ambruk saja,” katanya sembari bingung.

Bagi pendatang di daerah itu seperti jurnalis atau relawan, setidaknya turut tegang juga karena baru pertama kalinya merasakan seperti itu. “Saya jadi tegang saja lihat pada berlarian seperti itu,” kata relawan dari Banda Aceh, Rafli.

Akibat masih seringnya terjadi gempa susulan itu, aktivitas warkop belum normal seperti biasanya karena bukan hanya pengunjung yang khawatir tapi juga penjualnya.

Mereka menutup warungnya tidak seperti hari biasanya atau sebelum musibah gempa. Pada malam minggu, biasanya warkop dibuka sampai pukul 00.00 WIB tapi karena masih tingginya intensitas gempa susulan, mereka tutup sekitar pukul 22.00 WIB.

Bahkan terkadang juga, jika terjadi gempa susulan pada pukul 22.00 WIB, warkopnya juga langsung tutup. “Sudah tutup Pak, kopinya masih ada tapi tutup,” katanya.

Saat ditanya apakah ada warkop lainnya yang masih buka, dia menjawab kemungkinan sudah pada tutup semua. Gempa susulan terus terjadi ini, katanya.

“Tadi gempa lagi,” sambung Harun, pelayan warkop yang berada di perempatan Jalan Banda Aceh-Medan atau tepatnya di dekat kantor Bupati Pidie Jaya.

Saat itu, jam tangan masih menunjukkan pukul 22.00 WIB, pelayan menutup warkopnya meski masih ada pengunjung yang duduk-duduk di kursi plastik depan warung tersebut.

“Tadi ada gempa lagi jam 10.00 WIB malam,” katanya

Mereka tidak hanya khawatir pada gempa saja tapi juga kekhawatiran akan terjadinya tsunami mengingat kawasan itu sekitar 500 meter menuju bibir pantai. “Kami masih trauma,” katanya.

Saat musibah gempa bumi disusul tsunami pada 2004, wilayah Pidie Jaya juga tidak luput diterjang air. Bahkan banyak juga ditemukan korban tewas dalam musibah bencana alam tersebut.

Sehingga bisa dikatakan pasca gempa tersebut, kegiatan keseharian warga belum berjalan normal sediakalanya. Termasuk kegiatan nongkrong di warkop.

Dalam gempa tektonik itu, sejumlah warkop yang menggunakan ruko turut ambruk bahkan ada yang menimbulkan korban jiwa tertimbun reruntuhan bangunan.

Berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 74 kali gempa susulan pascagempa bumi 6,5 SR yang terjadi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh

Humas BMKG Hary T Djatmiko dalam keterangan yang diterima di Banda Aceh menyebutkan hingga hari ke empat gempa bumi Rabu (7/12) sudah 74 kali gempa susulan dengan kekuatan magnitudo yang semakin kecil.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan jumlah gempa bumi susulan pada Rabu (7/12) terjadi sebanyak 45 kali, Kamis (8/12) terjadi sebanyak 14 kali.

Pada Jumat (9/12) terjadi sebanyak tujuh kali, Sabtu (10/12) terjadi sebanyak enam kali, dan hingga Minggu pagi (11/12) sementara baru terjadi sebanyak dua kali yaitu pada pukul 01.45 WIB dengan kekuatan magnitudo 3,5.

Gempa bumi susulan kembali terjadi dengan magnitudo 5.3 SR, pada pukul 09.50 WIB, dengan lokasi 5.32 lintang utara (LU), 96.21 bujur timur (BT) atau 18 km timur laut Kabupaten Pidie Jaya pada kedalaman 10 kilometer.

Masih seringnya terjadi gempa susulan menyebabkan warga korban gempa mengalami trauma dan takut untuk kembali ke rumah.

Saat ini, Kementerian Sosial sudah mendirikan sembilan posko pengungsian yaitu Posko Desa Rieng Blang Kecamatan Meureudu (500 jiwa), Posko Desa Meuraksa Barat Kecamatan Meureudu (800 jiwa), Posko Desa Paru Lueng Putu Kecamatan Bandar Dua (700 jiwa).

Posko Desa Meunasah Bi dan Mancang Kecamatan Meurah Dua (800 jiwa), Posko Desa Meunasah Balik Kecamatan Meuereudu (3000 jiwa), Posko Desa Pangwa Me Kecamatan Trienggadeng (600 jiwa), Posko Desa Pante Reng Samalanga (1.100 jiwa).

Serta dua posko tambahan yang baru dibentuk di Kabupaten Pidie Jaya yakni Posko Meunasah Juroeng yang menampung 1.300 jiwa dan Posko Trienggadeng menampung 700 jiwa.

PT Equityworld