Equityworld Futures – Yen Jepang sedikit menguat terhadap Dolar AS di sesi perdagangan Asia Rabu (29/Juni) ini seiring dengan para pembuat kebijakan di Jepang yang sedang bersiap menanti hasil dari rapat pemerintah demi membahas ekonomi negara pasca carut-marutnya pasar akibat Brexit. USD/JPY melandai, dengan diperdagangkan pada posisi 102.548, menurun 0.28 persen dari posisi sebelumnya.

yen

Penjualan Ritel Mengecewakan

Di samping itu, pagi tadi Kementerien Ekonomi, Perdagangan Dan Perindustrian Jepang merilis laporan mengenai penjualan ritel untuk bulan Mei yang jatuh, kali ini lebih parah daripada ekspektasi dan menjadi penurunan tahunan dalam tiga bulan beturut-turut. Inilah yang bakal menjadi salah satu faktor pemicu tambahan stimulus lebih bagi ekonomi Jepang.

Penjualan ritel Jepang untuk bulan Mei jeblok 1.9 persen dari satu tahun sebelumnya, lebih besar daripada perkiraan pasar yakni penurunan 1.6 persen. Lemahnya angka tersebut relatif rapuh bagi ekonomi Jepang, dengan lambatnya pertumbuhan upah dan suramnya prospek pemulihan yang terbebani oleh belanja masyarakat.

Menurut Hidenobu Tokuda, ekonom senior di Mizuho Research Institute, belanja konsumen masih stagnan dan trennya diperkirakan akan terus seperti itu untuk sementara karena lemahnya pertumbuhan upah. Kuatnya Yen, lanjut Tokuda, dapat menekan turun harga impor, yang memang terasa positif bagi konsumen. Namun, kenaikan yen akan melukai ekspor, pendapatan perusahaan, dan belanja modal.

Serba Tak Pasti

Sudah jatuh tertimpa tangga, tampaknya merupakan peribahasa yang tepat bagi Jepang. Belum selesai masalahpenguatan Yen Jepang yang merugikan sektor ekspor, hasil referendum Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa menambah kuat Yen karena fungsinya sebagai safe haven.

“Ketidakpastian dan risiko masih ada dalam pasar finansial,” kata PM Shinzo Abe dalam rapat yang digelarnya mengundang Menkeu Taro Aso dan Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda pagi ini guna membahas perkembangan pasar finansial pasca Brexit. – Equity world Futures